Senin, 22 Januari 2018

SEJARAH LAHIRNYA KABUPATEN PUNCAK JAYA BAGIAN II



Sejarah Puncak Jaya “Mulia” (Yamo) Era Missionaris)
Oleh: Neson Elabi


 Gbr: Foto RS.IMMANUEL Mulia (Sumber: Allah Wone To Panoramio.com)

Pada tanggal 5 Juni 1957, pesawat MAF (Mission Aviation Fellowship)  pertama kali mendarat di Swart Valley  ( sekarang disebut Karubaga Wilayah Toli), Lalu pada bulan Agustus 1958, tiga orang missionaris dari UFM : Ralph Maynard (Tuan Mener) , Bert  Power  dan Leon Dillinger (Tuan Telenggen )  berjalan kaki dari Karubaga menuju ke daerah Yamo dan membuka lapangan terbang di Mulia.  Pesawat pertama mendarat di Mulia pada 12 Oktober 1958, dan kemudian pada 1960 membuka lapangan terbang di Ilu. Selain membuka lapangan terbang, mussionaris mulai membangun infrastruktur dasar seperti jalan-jalan kserta jembatan ke setiap pelosok, seperi ke Yamo, Yambi-sinak, Guragi-ilu, serta jembatan gantung seperti Jembatan kali Guragi, Jembatan Kali Jambi, Jembatan Kali Sinak, Jembatan kali Muliambut, kali Yamo dn beberapa lainnya. Serta membangun RS. IMMANUEL Mulia.
Setelah membuka pos-pos penginjilan dan mengabarkan injil, maka diadakanlah baptisan pertama sebagai hasil dari Badan Misi UFM, RBMU dan APCM di wilayah Bogondini, Kelila, Karubaga, Mamit, dan Yamo.   
Orang-orang yang percaya dan dibaptis pertama  dari wilayah tersebut yakni, dari Wilayah Kelila sebanyak 9 Orang yang dibaptis pada 29 Juli 1962, yaitu:


§   Ki’Marek Karoba dan Istrinya
§   Lawingga Yikwa
§   Yiyawon Yikwa
§   Lararep Wanimbo
§   Nu’nuk Pagawak
§   Yabingga Yikwa
§   Wuluwarek Yikwa
§   Ugwa Kogoya



Dari wilayah Bogondini sebanyak 15 Orang yang dibaptis pertama pada tanggal 16 September 1962. Dari wilayah Karubaga Orang yang pertama mengaku dosa dan dibaptis pertama pada tanggal 24 Februari 1963. Dari wilayah Kanggime sebanyak 21 Orang dibaptis. Selanjutnya Dari wilayah Mamir (Mamit) 13 Orang yang pertama mengaku dosa. kemudian   dar wilayah Yamo (Mulia) orang-orang yang pertama dibaptis pada 14 Juli tahun 1963 sebanyak 13 orang, yaitu:


·         Wogoriya’Mban dan istrinya Aligiyok Wonda
·         Nggemende dan istrinya Komonugwe
·         Mbarit dan istrinya
·         Nggirinok Elabi
·         Tibenok Enumbi
·         Nggewone Enumbi
·         Ondowa Elabi
·         Ki Eeri’mban Tabuni
·         Nggun Wanena
·         Ogo’ma Wonda


Perkembangan misi terus berkembang, semakin hari semakin banyak yang percaya kepada Kristus dan dibaptis. Hal ini membuat dibutuhkanlah  semakin banyak pengajar asli daerah  untuk mengajar dan memberitakan injil di pelosok-pelosok pengunungan Papua .
Maka didirikanlah sekolah alkitab di  Aagobaga-Ilu, Sehingga orang-orang dari Ilugwa-Wolo, Kelila, Bogondini, Ilu dan Mulia datang belajar di sekolah ini. Sekolah ini diajar oleh Tuan Dilingger (Tuan Telenggen) serta istrinya serta dibantu oleh Tuan Scovil (Tuan Kobo) dan istrinya.  Angkatan Pertama sekolah alkitab ini dibuka pada tahun 1964 dan penamatan angkatan pertama pada tahun 1967. Namun setelah 2 Tahun, sekolah alkitab yang di Ilu dipindahkan ke Mulia. Disinilah orang-orang datang belajar alkitab dalam bahasa Lani. Setelah lulus angkatan pertama, Tuan Dilingger melatih lagi beberapa orang lulusan pertama untuk mengajar lagi sebagai guru  di sekolah Alkitab Mulia.
Dengan semakin majunya  zaman, UFM berpikir bahwa tidak cukup jika lulusan hanya dari sekolah Alkitab Mulia, maka dikembangkanlah Sekolah Alkitab dan Kejuruan di Irian Jaya (SAKIJ)  dalam bahasa Indonesia di Sentani. Kemudian dibangun lagi STAKIN yang setara dengan SMA, dan kemudian dibangun lagi Sekolah Tinggi Theologi –Gereja Injili di Indonesia (STT-GIDI) di Sentani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar