Kondisi
Papua Saat Masuknya Bangsa Eropa – Missionaris – Hingga Tahun 1969
oleh: Neson Elabi
oleh: Neson Elabi
Gbr: Foto Missionaris Sedang Khotbah (sumber :Sabda.org)
Papua
adalah salah satu Propinsi terluas di Indonesia, bahkan Pulau Papua adalah
salah satu pulau terluas kedua di Dunia, setelah Greenland. Ada banyak sebutan
untuk pulau yang berada di sebelah utara Australia ini dengan New Guinea,
Netherlands New Guinea, Irian Barat, Irian Jaya, dan seterusnya hingga kini
Papua. Papua memiliki luas area sekitar 890.000 km2 (digabung dengan PNG) atau 421.981 km2 .
Pada sekitar tahun 200 M, ahli
geography bernama Claudius Ptolemaeus menyebut Papua dengan sebutan Labadios,
namun hingga kini, belu ada yang tau kenapa Pulau Papua diberi nama Labadios.
Sekitar ahun 500M, oleh pedagang China menyebutnya Tungki. Hal ini dapat
diketahui setelah ditemukannya sebuah catatan harian seorang pengarang Tiongkok
Ghayu Yu Kuan yang menggambarkan asal rempah2 yg mereka peroleh berasal dari
Pungki, nama yang dipakai pedagang China saat itu untuk Papua.
Sekitar Tahun 1646 Kerajaan Tidore memberi
nama untuk Pulau ini dan Penduduknya dengan nama Papa-Ua yang dalam sebutannya
Papua, yang artinya tidak bergabung/tidak bersatu (Not integrated). Dalam bahasa melayu berarti berambut
keriting. Dalam pengertian yang lain
bahwa, di Pulau ini tidak ada seorang raja yang memerintah.
Pada Tahun 1511 Antonio d’Arbau, pelaut
asal Portugis menyebutnya dengan nama Papuas. Akhirnya pada tahun 1545 seorang
pelaut asal Spanyol Inigo Ortiz de Rates memberi nama Nueva Guinee, dalam
bahasa inggris disebut New Guinea. Karena ciri2 penduduknya sama dengan yang Ia
lihat di belahan bumi Afrika. sehingga nama ini dikenal hingga seluruh dunia.
Orang Eropa pertama yang datang ke Papua menyebut orang Papua dengan sebutan Orang Malanesia. Asal kata malanesia berasal dari kata Yunani, yaitu
“Mela” yang artinya Hitam. Karena orang eropa melihat orang Papua yang hitam,
sehingga mereka menyebutnya Orang Malanesia. Pada tahun 1956, Belanda mengubah
nama nama Nieuw Guinea menjadi Nederlands Nieuw Guinea, setelah Indonesia
merdeka pada tahun 1945, Batas Indonesia hanya dari Sabang-Ambon. Sedangkan
Papua saat itu masih dibawah pemerintahan Belanda. Hingga pada tahun 1961,
Belanda membentuk negara Papua dengan nama Netherlands Nieuw Guinea, Namun Indonesia membubarkan negara Papua yang
sudah dibentuk Belanda dengan Operasi
Trikora (tiga Komando Rakyat) pada 19 Desember 1961-15 Agustus 1962 Operasi
Trikora. Akhirnya Papua di “gabungkan” ke NKRI pada 1 Mei 1963. Kemudian pada
tahun 1969, Indonesia dan Belanda melalui PBB mengadakan “PEPERA” untuk
memutuskan apakah Papua merdeka sendiri atau masuk dalam Indonesia.
Dari sisi penginjilan, injil sudah
masuk di tanah Papua melalui dua missionaris asal Belenda dan Jerman, Ottow-Geissler pada tahun 1855 di Pulau
Mansinam Manokwari (5 Februari 1855), namun injil saat itu hanya berkembang di
daerah pesisir Pantai. sehingga Daerah Pengunungan Papua masih gelap oleh
berita Injil. Pada Tahun 1951-1954 Setelah merintis pos, membuka lapangan
terbang pertama di Senggi sehingga pada tanggal 20 Januari 1955 ketiga
misionaris beserta 7 orang pemuda dari Senggi terbang dari Sentani tiba di
Lembah Baliem di Hitigima menggunakan pesawat amphibi (Sealander). Kemudian mereka melanjutkan misi dengan berjalan kaki
dari Lembah Baliem ke arah Barat pegunungan Jayawijaya melalui Piramid. Dari
Piramid bertolak menyeberangi sungai Baliem dan menyusuri sungai Wodlo dan tiba
di Ilugwa. Dan menuju ke arah muara sungai Ka'liga (Hablifura) dan akhirnya
tiba di danau Archbol (Danau Abema) pada 21 Februari 1955. Di
pinggir danau inilah Camp injil pertama didirikan dan meletakkan dasar wilayah
teritorial penginjilan dengan dasar visi: "Menyaksikan Kasih Kristus Kepada
segala Suku Nieuw Guinea (Papua) ", yang diambil dari Kisah Para Rasul 1:8. Setelah meletakkan
dasar injil ini , Mereka membuka lapangan terbang di Archbold sambil mengadakan
survei pengembangan pelayanan di sekitar Bokondini dan Kelila dan akhirnya pada tanggal 25 Maret 1955 pesawat jenis JZ-PTB Piper Pacer berhasil
mendarat di Danau Archbold.
Pada tanggal 28 April misionaris
dari UFM (Unevangelized Fields Mission)
, Gesswein dan Widbin bersama Misionaris dari
ABMS (Australian Baptism Mission Society) lainnya meninggalkan Camp
Injili di Archbol dan bertolak menuju Bokondini, dan pada tanggal 1 Mei 1955
tiba di Bokondini. Setelah tiba di Bokondini mereka membuka lapangan terbang pertama dan
Pilot Dave Steiger mendaratkan pesawat pertama kali di Bokondini pada
tanggal 5 Juni 1965. Sejak itulah
terbuka Pos penginjilan dari UFM dan APCM di Bokondini sebagai basis
penginjilan di seluruh pegunungan tengah Papua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar