Minggu, 12 Februari 2017

Para Pahlawan di Balik 54 Tahun Perjalanan GIDI



 

Gambar: Missionaris Pembawah Injil di Daerah Pengunungan Papua (Sumber: Google doc)


Bisakah anda membayangkan bagaimana jadinya, jika anda diminta pergi ke suatu tempat yang belum pernah  anda pergi, tempat yang angker, tempat yang bahasa orang-orangnya pun anda tidak tau, tempat yang katanya siapa saja yang masuk disana dipanah dengan ribuan anak Panah, dan kemungkinan besar pulang hanya tinggal Nama. Tentu bagi sebagian orang tidak mau pergi ke tempat semacam ini, apalagi meninggalkan kekayaan dan kemewahan bahkan  harus berjalan kaki di hutan selama berminggu-minggu bahkan bulan. 
Itulah dilema yang dihadapi oleh para misionaris yang membawa injil di daerah pengunungan Papua. Namun mereka memutuskan harus pergi dan meberitakan amanat agung.

“ Karena itu pergilah, Jadikanlah semua bangsa Murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dan ajarlah mereka melakukan segalah sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir Zaman (Mat 28:19-20)”

Inilah yang menjadi dasar dan pegangan mereka untuk berpijak, sehingga mereka menaruh nyawa sebagai taruhan, karena mereka Percaya bahwa Dia akan menyertai mereka hingga akhir zaman. 
Akhirnya setelah berjalan kaki selama berminggu-minggu,  dan  bertahun-tahun mereka mengabarkan Injil, akhirnya tibalah waktu untuk panen pertama, membaptis orang yang percaya Kristus. inilah harapan besar yang mereka impikan.  

Berikut adalah nama orang-orang yang percaya kristus pertama kali dari wilayah Bogo, kelila, dan Wilayah Yamo yang penulis rangkum dari buku Sejarah Injil Masuk di Wilayah Suku Lani”:

Dari Wilayah Kelila sebanyak 7 Orang yang dibaptis pada 29 Juli 1962, yaitu:
1.             Ki’Marek Karoba dan Istrinya Lawingga Yikwa
2.             Yiyawon Yikwa
3.             Lararep Wanimbo
4.             Nu’nuk Pagawak
5.             Yabingga Yikwa
6.             Wuluwarek Yikwa
7.             Ugwa Kogoya

Sedangkan Gembala pertama dari wilayah Kelila, yaitu Ki’Marek, Nu’nuk, Lararep, Yabingga, Emulunggun, Yiyawon, Amorero.
Dari wilayah Bokondini sebanyak 15 Orang yang dibaptis pertama pada tanggal 16 September 1962 yaitu:
1.          Yan Mbini Karoba dan Istrinya Paginawok Penggu
2.          Ndowan Wanimbo dan istrinya Narorit Tabuni
3.          Mote Baminggen dan istrinya Kerogonambit Penggu
4.          Longgop Baminggen dan istrinya Kilarit Penggu
5.          Enggibaga Baminggen dan istrinya Yanoba Pagawak
6.          Monenggen Pagawak dan istrinya Nemini’mban
7.          Pirigin Penggu dan istrinya Nona Pirigin Karoba
8.          Unakane karoba
Sedangkan Gembala pertama dari wilayah Kelila, yaitu Unak, Muguret, Longgobanggen, Ndowan, Eenggibaga, Amburunggen, Monegen. 

Dari wilayah Yamo (Mulia) orang-orang yang pertama dibaptis pada 14 Juli tahun 1963 sebanyak 13 orang, yaitu:
1.             Wogoriya’Mban dan istrinya Aligiyok Wonda
2.             Nggemende dan istrinya Komonugwe
3.             Mbarit dan istrinya
4.             Nggirinok Elabi
5.             Tibenok Enumbi
6.             Nggewone Enumbi
7.             Ondowa Elabi
8.             Ki Eeri’mban Tabuni
9.             Nggun Wanena
10.        Ogo’ma Wonda

 Selain 13 orang yang dibaptis pertama dari wilayah Yamo (Mulia) diatas, ada 40 Orang ternama yang percaya Kristus Pertama Kali dari Mulia namun mereka tidak dibaptis, yaitu:
 1.             Warinak Wonerengga
2.             Iinggukwe Telenggen
3.             Kinogowa Wonerengga
4.             Kiginggwe Enumbi
5.             Oone-Omawi Morip
6.             Nggulanuk Enumbi
7.             Alom Yare’lek Enumbi
8.             Wogiriya’mban Telenggen
9.             Ambenggwok Enumbi
10.         Nggiyongga Telenggen
11.         Kiluwak Tabuni
12.         Taalagi Enumbi
13.         Kelegwe Telenggen
14.         Lembanak Enumbi
15.         Tibombunuk Kogoya
16.         Timauwakom Enumbi
17.         Aagombanonuwa
18.         Walurupaga Telenggen
19.         Yugurugut Kogoya
20.         Nggiluwarak Telenggen
21.         Wuramburu Kogoya
22.         Amburupupuk Wonerengga
23.         Tingge-Mbangge Kogoya
24.         Mberebaga Telenggen
25.         Ogowagwe Telenggen
26.         Nggungga Wonerengga
27.         Wanggo Wonerengga
28.         Wananikwe Kogoya
29.         Wumuru Enumbi
30.         Nggeyawigwe Telenggen
31.         Mbiriyan Kogoya
32.         Nggobokwe Yoman
33.         Wuramburu Kogoya
34.         Kembu Kogoya
35.         Amborolambu Enumbi
36.         Enggararipaga Telenggen
37.         Kogoyakenok Telenggen
38.         Ponogo Wonerengga
39.         Wondagwe Enumbi
40.         Tibenok Onuwa Enumbi


      Itulah para pujangga Mula-mula yang percaya kristus dan di Batis oleh missionaris. Sebenarnya masih banyak orang-orang  yang berperan dalam perkembnagan GIDI namun penulis tidak bisa menyebutkan semuanya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Generasi GIDI..Tuhan Yesus berkati..wa..
 

Minggu, 29 Januari 2017

Akankah Politik Menggeser Kerukunan Masyarakat Lokal?



 Gbr: Ilustrasi Politik vs Kerukunan (sumber: Doc Wakkawok)




Sebuah Opini Oleh:
Neson Elabi

Pemilihan Umum Kepala Daerah (PEMILUKADA) serentak tahun 2017 menjadi ajang pesta demokrasi terbesar dunia yang kedua kalinya yang digelar di Indonesia, setelah  pemilihan serentak pada tahun 2015. Tercatat ada 153 pasangan calon dari 101 daerah yang akan menggelar Pilkada serentak pada 2017.
Pemilukada memang menjadi sala satu momen terpenting bagi rakyat untuk memilih pemimpin mereka selama lima tahun ke depan. Selain menjadi pesta demokrasi karena  rakyat memilih pemimpin mereka secara langsung “Demokrasi”. Namun pesta demokrasi ini juga memiliki dampak negatif, yaitu mempunyai peluang terjadinya konflik horizontal antara masyarakat.
Sesuai data yang dirilis oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pusat, dalam situs www. ksp.go.id ada beberapa daerah yang memmiliki Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) tertinggi dalam pemilihan serentak 2017. Dalam data yang dirilis Bawaslu, Papua Barat, Provinsi Aceh dan Banten secara berurutan berada di Zona merah dengan rawan konflik tinggi. Sedangkan kabupaten Puncak Jaya pada tingkat kerawan sedang.

klik link dibawah ini untuk melihat data IKP Bawaslu pusat


Sedangkan menurut berita  yang dirlansir  melalui situs www.mediaindonesia.com tertanggal 28 Oktober 2016,  sebanyak 11 kota/Kabupaten di Papua yang akan menggelar pesta demokrasi dalam pemilukada serentak pada 15 Februari 2017. Kabupaten Puncak Jaya adalah salah satu kabupaten yang memiliki potensi konflik horizontal antar masyarakat. 
Jika dilihat dari kondisi dan perkembangan isu politik yang terjadi saat ini di kabupaten Puncak Jaya, bahkan beberapa daerah lainnya, ada beberapa hal yang mungkin  memicu terjadinya konflik horizontal dalam masyarakat yaitu penggunaan marga atau fam misalnya  julukan “Ibo-Telenggen”, “Wonda-Geley”, “ Wonda-Telenggen” dan seterusnya  dalam kampanye politik. Hal-hal seperti ini akan menanamkan rasa rasis dan rasa dendam dari satu marga ke marga yang lain atau satu suku ke suku yang lain, sehingga Marga yang memenangkan pemilihan akan menguasai jabatan-jabatan dalam pemerintahan, sedangkan marga yang kalah dalam pemilukada akan terus dikucilkan dalam pemerintahan maupun  di lingkungan masyarakat. Hal-hal seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa standar pemahaman berpolik dan pemahaman  demokrasi   yang rendah. 
Di sisi lain, hal Ini akan berdampak pada tumbuhnya benih perpecahan di masyarakat serta hilangnya  rasa  kerukunan dan kebersamaan yang sudah bertahun-tahun dibangun oleh nenek moyang.
Biarkan masyarakat yang menentukan pilihan mereka, biarkan demokrasi berjalan pada jalannya sendiri, jangan memaksa membeli demokrasi dengan hartamu, dengan janji-janji palsumu, karena demokrasi adalah milik rakyat.
                                                         Salam Demokrasi..