Ini adalah
kisah perjalanan[ku], perjalanan panjang dalam mengejar ilmu. Perjalanan
mengelilingi Ribuan Pulau, mengarungi ratusan mill lautan, makan seadanya, terkadang
kehidupan terasa berada dalam kemah di medan pengungsian perang,
berpindah-pindah, menumpang di kos kawan, berjalan kaki berkilo-kilo
Pergi-pulang kampus. Bahkan harus punya cara selicik akal kancil sekedar untuk mengganjal
perut. Ini adalah kisah perjalanan saya selama 9 Tahun merantaua tanpa bertemu
dengan orang tua. Kisah seorang anak rantauan dalam menimbah ilmu, mengejar
cita-cita hidup untuk hidup layak dan bebas ditanahnya..
Semoga
cerita pendek ini menjadi setitik semangat bagi yang saat ini masih dan sedang berjuang
mengejar ilmu di tanah rantuan.
Saya menyelesaikan SMP di
kota Mulia (Muli-eya), ibu kota kabupaten Puncak Jaya, sala satu kota kecil di pengunungan
tengah Papua pada 2009. Setelah selesai tamat SMP seperti biasanya anak-anak
sibuk mendaftar di sekolah menengah atas (SMA). Saat itu di kota Mulia hanya
terdapat 1 SMA dan 1 SMK, sekolah ini melayani siswa dari 16 Distrik
(Kecamatan) saat itu sehingga tidak banyak pilihan, namun ada juga anak-anak yang
berangkat ke Jayapura untuk melanjutkan sekolah menengah atas atau sederajat
dengan kualitas yang lebih baik. Itupun hanya bagi beberapa anak yang orang
tuanya mampu. Ketika itu Saya ditawari sala seorang untuk melanjutkan SMA di
kota, kemudian saya memberitahukan hal ini kepada orang tua saya, orang tua
saya mengijinkan saya untuk merantau walaupun mereka tidak tahu sedikitpun di
kota mana saya akan dibawah. Sayapun demikin, saya tidak tahu di kota mana saya
akan dibawah, tapi yang saya yakin bahwa kota yang dituju itu mutu pendidikannya
lebih baik dari tempat asal saya. Malam terakhir sebelum saya berangkat ayah saya
berpesan dengan mengatakan “Engkau akan pergi ke tempat yang jauh,
tempat dimana sayapun belum tau, dan tentu tidak ada kelurga disana, namun
jadikanlah orang-orang disekelilingi dimana kamu rantau adalah keluargamu”. Kata-kata
ini menjadi semacam pegangan selama saya di rantauan.
Hari itu tepat tanggal 7 Agustus
2009, hari terakhir pendaftaran Peserta didik baru di SMAN 1 Mulia, ratusan
anak-anak mulai ramai di halaman SMAN1 Mulia. Pagi itu seorang yang mengajak
saya itu datang ke rumah saya lalu mengatakan penerbangan ke Jayapura Jam 9
pagi. Saya bersama seseorang yang
mengajak saya itu terbang ke Sentani (Jayapura), setelah 2 hari di Jayapura kemudian
pada tanggal 10 Agustus kami melanjutkan perjalanan ke kota yang dituju
menggunakan kapal laut selama 6 hari perjanan. Pada tanggal 15 Agustus jam 21:25 malam kami tiba di satu
pelabuhan besar, pelabuhan ini berbeda dengan 6 pelabuhan yang kami singgah
selama perjalanan, bahkan berbeda jauh dengan pelabuhan awal yang saya naik. Dari
lorong jendela Pelabuhan ini tampak ramai dengan kerlap-kerlip lampu, berbagai
macam kapal berlabuh di pelabuhan ini. Beberapa penumpang mulai menyimpan dan
meringkas barang-barang, satu-dua penumpang mulai meninggalkan kapal disela-sela
awak kapal mengumumkan kapals sudah berlabuh di pelabuhan. Kami juga bergegas mulai
mengikuti penumpang menuju pintu keluar. Sebelum menuruni tangga kapal, mata
saya reflek tertuju pada tulisan didepan atas bangunan, “Selamat Datang di
Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya”, ini
nama kota yang saya pernah saya dengar dalam pelajaran sejarah SMP. Saya kira
itulah tempat terakhir yang kami tuju, namun tidak. Setelah turun dari kapal
kami naik Bus menuju terminal Purabaya kemudian Kami masih melanjutkan
perjalanan menggunakan bus, setelah 2 jam perjalanan bus yang kami tumpagi melewati
satu tugu atau gapura besar dengan tulisan” Selamat datang di Kota Malang”, Inilah
nama kota pertama yang saya tahu, Di kota inilah dimana saya akan berjibaku melawan kerasnya
kehidupan di negeri rantauan, kota dimana berbagai cerita terukir.
Tepat pada hari sabtu 15
Agustus 2009 pukul 22:15 malam kami tiba
di kota Malang. Esoknya setelah ibadah minggu, orang yang mengantarkan saya itu
berbicara dengan sala seorang di halaman Gereja kemudian kami ke sebuah sekolah
ber-asrama di kota Malang. setelah berbincang bersama pembina asrama, orang
yang mengantantar saya pamit katanya ke rumah sahabat dan besok dia akan datang
melihat saya di asrama itu lagi. Besok yang dimaksud adalah satu tahun
kemudian. Sore itu saya menjadi satu-satunya dan pertama kali anak Papua yang
menjadi penghuni di asrama tersebut...Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar