Sabtu, 02 Juni 2018

Cerpen: Mereka Dalam Perjalanan[Ku] Bagian I : Mengarungi Ratusan Mill Lautan




 

Ini adalah kisah perjalanan[ku], perjalanan panjang dalam mengejar ilmu. Perjalanan mengelilingi Ribuan Pulau, mengarungi ratusan mill lautan, makan seadanya, terkadang kehidupan terasa berada dalam kemah di medan pengungsian perang, berpindah-pindah, menumpang di kos kawan, berjalan kaki berkilo-kilo Pergi-pulang kampus. Bahkan harus punya cara selicik akal kancil sekedar untuk mengganjal perut. Ini adalah kisah perjalanan saya selama 9 Tahun merantaua tanpa bertemu dengan orang tua. Kisah seorang anak rantauan dalam menimbah ilmu, mengejar cita-cita hidup untuk hidup layak dan bebas ditanahnya..
Semoga cerita pendek ini menjadi setitik semangat bagi yang saat ini masih dan sedang berjuang mengejar ilmu di tanah rantuan.

Saya menyelesaikan SMP di kota Mulia (Muli-eya), ibu kota kabupaten Puncak Jaya, sala satu kota kecil di pengunungan tengah Papua pada 2009. Setelah selesai tamat SMP seperti biasanya anak-anak sibuk mendaftar di sekolah menengah atas (SMA). Saat itu di kota Mulia hanya terdapat 1 SMA dan 1 SMK, sekolah ini melayani siswa dari 16 Distrik (Kecamatan) saat itu sehingga tidak banyak pilihan, namun ada juga anak-anak yang berangkat ke Jayapura untuk melanjutkan sekolah menengah atas atau sederajat dengan kualitas yang lebih baik. Itupun hanya bagi beberapa anak yang orang tuanya mampu. Ketika itu Saya ditawari sala seorang untuk melanjutkan SMA di kota, kemudian saya memberitahukan hal ini kepada orang tua saya, orang tua saya mengijinkan saya untuk merantau walaupun mereka tidak tahu sedikitpun di kota mana saya akan dibawah. Sayapun demikin, saya tidak tahu di kota mana saya akan dibawah, tapi yang saya yakin bahwa kota yang dituju itu mutu pendidikannya lebih baik dari tempat asal saya. Malam terakhir sebelum saya berangkat ayah saya berpesan dengan mengatakan “Engkau akan pergi ke tempat yang jauh, tempat dimana sayapun belum tau, dan tentu tidak ada kelurga disana, namun jadikanlah orang-orang disekelilingi dimana kamu rantau adalah keluargamu”. Kata-kata ini menjadi semacam pegangan selama saya di rantauan. 

Hari itu tepat tanggal 7 Agustus 2009, hari terakhir pendaftaran Peserta didik baru di SMAN 1 Mulia, ratusan anak-anak mulai ramai di halaman SMAN1 Mulia. Pagi itu seorang yang mengajak saya itu datang ke rumah saya lalu mengatakan penerbangan ke Jayapura Jam 9 pagi.  Saya bersama seseorang yang mengajak saya itu terbang ke Sentani (Jayapura), setelah 2 hari di Jayapura kemudian pada tanggal 10 Agustus kami melanjutkan perjalanan ke kota yang dituju menggunakan kapal laut selama 6 hari perjanan. Pada tanggal 15  Agustus jam 21:25 malam kami tiba di satu pelabuhan besar, pelabuhan ini berbeda dengan 6 pelabuhan yang kami singgah selama perjalanan, bahkan berbeda jauh dengan pelabuhan awal yang saya naik. Dari lorong jendela Pelabuhan ini tampak ramai dengan kerlap-kerlip lampu, berbagai macam kapal berlabuh di pelabuhan ini. Beberapa penumpang mulai menyimpan dan meringkas barang-barang, satu-dua penumpang mulai meninggalkan kapal disela-sela awak kapal mengumumkan kapals sudah berlabuh di pelabuhan. Kami juga bergegas mulai mengikuti penumpang menuju pintu keluar. Sebelum menuruni tangga kapal, mata saya reflek tertuju pada tulisan didepan atas bangunan, “Selamat Datang di Pelabuhan  Tanjung Perak Surabaya”, ini nama kota yang saya pernah saya dengar dalam pelajaran sejarah SMP. Saya kira itulah tempat terakhir yang kami tuju, namun tidak. Setelah turun dari kapal kami naik Bus menuju terminal Purabaya kemudian Kami masih melanjutkan perjalanan menggunakan bus, setelah 2 jam perjalanan bus yang kami tumpagi melewati satu tugu atau gapura besar dengan tulisan” Selamat datang di Kota Malang”, Inilah nama kota pertama yang saya tahu, Di kota inilah  dimana saya akan berjibaku melawan kerasnya kehidupan di negeri rantauan, kota dimana berbagai cerita terukir.

Tepat pada hari sabtu 15 Agustus 2009 pukul 22:15  malam kami tiba di kota Malang. Esoknya setelah ibadah minggu, orang yang mengantarkan saya itu berbicara dengan sala seorang di halaman Gereja kemudian kami ke sebuah sekolah ber-asrama di kota Malang. setelah berbincang bersama pembina asrama, orang yang mengantantar saya pamit katanya ke rumah sahabat dan besok dia akan datang melihat saya di asrama itu lagi. Besok yang dimaksud adalah satu tahun kemudian. Sore itu saya menjadi satu-satunya dan pertama kali anak Papua yang menjadi penghuni di asrama tersebut...Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar