Rabu, 06 Januari 2016

Bayi yang Membawah Kasih Perdamaian: Natal IPMAPUJA se-Jawa dan Bali 2015




Malang, IPMAPUJA_“Dosa adalah akar permasalahan antara saudara dan saya, sehingga kita jauh dari Tuhan, namun melalui kelahiran Yesus kita adalah satu“
Ini disampaikan oleh Pdt. Arson Enumbi S.Th  dalam ibadah pembukaan Natal Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Jaya (IPMAPUJA)  se-Jawa dan Bali, pada senin 28/12/15.
Perayaan Natal dan Seminar dengan Tema “Kasih Allah Telah Dinyatakn Dalam Kelahiran Yesus Yang Membawah Pengharapan Baru”  dilaksanakan di Pondok Wisata Gunung Tabor, Tumpang Kabupaten Malang.  kegiatan Natal dan Seminar ini dihadiri sekitar 250 peserta yang dibuka oleh BPH IPMAPUJA Se-jawa, Tendison Geley.



Gbr: Foto Suasana saat Ibadah (foto By ILPIT W) 

Dalam sambutannya, Ketua  BPH IPMAPUJA se Jawa dan Bali mengatakan bahwa” kegiatan ini bukan se Mata-mata kegiatan rutinitas tahunan, namun lebih pada wadah silahturami keluarga besar IPMAPUJA se Jawa dan Bali dan wadah mempersatukan hati untuk membangun daerah”
Menurut kegiatan Natal ini berjalan tertip yang diawali dengan sambutan ketua Panitia, ketua Korwil, serta penyampaian Firman Tuhan (NE)



Kamis, 15 Oktober 2015

Hut 19 Tahun Kab. Puncak Jaya, IPMAPUJA Malang Gelar Doa Syukur & Diskusi Terbuka



Malang, Pentingkah Generasi Mudah Mengetahui sejarah lokal? Itulah topik diskusi yang diangkat oleh pelajar dan mahasiswa Puncak Jaya yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Jaya (IPMAPUJA) koorwil Malang di Sekretariat IPMAPUJA, Minggu,11/10/2015.



  Foto suasana diskusi terbuka di sekretariat IPMAPUJA Malang 11/10/2015

Doa syukur dan diskusi terbuka ini di selenggarakan dalam rangka memperingati Hut Kabupaten Puncak Jaya, yaitu pada tanggal 8 Oktober 2015. Acara Hut 19 tahun Kabupaten Jaya dihadiri oleh belasan pelajar SMP/SMA dan Mahasiswa dari kota Malang dan Kota Batu, Jawa Timur. Acara  berlangsung aman dan tertib yang dimulai dengan renungan Firman Tuhan bersama yang dipimpin oleh Pdt Ishak Surya. Setelah acara Pemberitaan Firman selesai, acara dilanjutkan dengan diskusi terbuka.
Ini adalah diskusi terbuka yang kedua, setelah diskusi pertama pada Minggu, 27/9/15 lalu. Diskusi kedua ini kami memilih topik “Pentingkah Generasi Mudah mengetahui Sejarah Lokal” ini karena bersamaam dengan HUT kabupaten Kami. Dalam diskusi ini kami membahas tentang sejarah berdirinya Kabupaten Puncak Jaya hingga saat ini supayah adik-adik kami yang masih SMP/SMA bisa mengetahui sejarah daerahnya sendiri, kata ketua Korwil IPMAPUJA Malang, Yunison Wonerenga.
“Sejarah daerah  Penting, sejarah daerah  Mengajarkan kita suatu kepemimpinan yang telah berlalu, sejarah daerah menjadi tolok ukur untuk kita maju, orang yang mengetahui sejarah daerahnya akan memimpin daerahnya dengan dasar sejarah, namun generasi yang belum mengetahui sejarah daerahnya, orang lain akan datang memerintah, walaupun diatas tanah kita sendiri” pungkasnya.
Selain itu, Senioritas IPMAPUJA Malang, Adora Ribka Tabuni mengatakan “mengetahui sejarah Lokal adalah dasar bagi generasi mudah, namun lebih penting lagi adalah rasa saling menghargai dalam organisasi. Untuk kemajuan suatu organisasi harus ada rasa saling Menghargai terutama antara pria dan wanita, Karena di balik perjuangan seorang pemimpin laki-laki, ada seorang wanita yang menopangnya daribelakang” (Neson Elaby)

Sabtu, 26 September 2015

Sabtu, 11 Juli 2015

IPMAPUAJ KORWIL MALNG GELAR RAKER PERTAMA


IPMAPUJA KORWIL MALANG GELAR RAKER PERTAMA


BUKAN SAYA, TAPI KAMI”, itulah kata kunci yang disampaikan oleh Benny Yoman dalam sambutannya kepada generasi penerus organisasi Ikatan Pelajar dan mahasiswa Puncak Jaya (IPMAPUJA) dalam Rapat Kerja Korwil tahun 2015. Dalam sambutanya Benny Yoman selaku Pendiri organisasi dan juga senioritas menekankankan kepada generasi penerus organisasi, bahwa berorganisasi adalah hal yang wajib diikuti oleh generasi penerus Puncak Jaya sebagai wadah pembentukan karakter pemimpin. Organisasi bukan hal yang tak biasa, namun berorganisasi adalah hal yang mutlak dalam dunia sosial. untuk memimpin hal-hal yang kecil hingga yang besar harus dipelajari dalam organisasi.
Selain itu abang yang juga sebagai senioritas dan mantan ketua Ikatan Pelajar dan mahasiswa Pucak jaya (IPMAPUJA) itu menyampaikan, “untuk memimpin sebuah organisasi, harus mematikan ego diri, dan mengutamakan kepentingan  organisasi”, beliau menekankan bahwa, untuk memimpin sebuah organisasi bukan memakai kata” saya” tapi “kami” untuk mewujudkan suatu kinerja yang memuaskan. Jika memakai kata “saya” maka pemimpin tersebut akan mematikan kepentingan bersama, lanjut abang yang sedang menempuh perkuliahan bahasa asing di salah satu kampus di kota Apel itu.
Rapat Kerja Korwil IPMAPUAJ itu berlangsung singkat dimulai dari pemaparan Program  kerja utama oleh BPH-IPMAPUJA terpilih, yaitu Yunison Wonerengga. Dalam program kerjanya, pria yang menempuh  perkuliahan di Universitas Brawijaya Malang tersebut memaparkan program utama bagi lima bidang, diantaranya yaitu; Bidang Pendidikan dan Penalaran, Kerohanian, Bidang Minat dan Bakat, bidang Hubungan Masyarakat, dan Bidang Publikasi dan Dokumentasi.
Dalam sambutannya, ketua korwil IPMAPUJA menekankan bahwa pentingnya implementasi dari setiap program-program yang sudah disusun oleh setiap bidang. Karena yang melaksanakan program tersebut adalah bidang –bidang tersebut, bukan orang lain, maka kerja sama dan jaring komunikasi menjadi factor utama dalam implementasi program kerja yang sudah disusun.
Setelah penyampaian program kerja serta sambutan dari setiap perwakilan, acara dilanjutkan dengan santap makan siang.


Selasa, 02 Desember 2014

Wakawok Kunume: Anak-Anak SMP-SMA Kristen Setia Budi Malang Lestarikan Budaya Bakar Batu Dari Pulau Jawa

Sekilas Tentang Kata
“Wakkaawok ”


          Wakkaawok  berasal  dari  salah
satu  kata  keterangan  Jamak
dalam  bahasa  Dani  (Lani  Wone).  Kata
Wakkawok    terdiri  dari  dua  kata  yaitu,
kata “Wakka” yang artinya saya mencoba
( Try, igg),  dan kata “ Awok” atau “ Abok/
Apit”  yang  artinya  Semua.  Maka,
Wakkaawok  berarti  kita  semua  mencoba.
bukan semua kita mencoba. Artinya bahwa
kita  semua  mencoba  untuk  belajar  yang
orang  lain  bisa.  kenapa  orang  lain  pintar,
kita  tidak,  kenapa  orang  lain  bisa  main
gitar,  piano,  dll,  sedangkan  kita  tidak,
kenapa  orang  lain  bisa  memimpin
daerahnya  sendiri,  sedangkan  kita  tidak,
kenapa  orang  lain  bisa  melakukan  banyak
hal,  sedangkan  kita  tidak?  Semua
pertanyaan ini muncul dalam benak Penulis
di  tanah  rantauan.  Maka  tidak  ada
salahnya  jika  kita  semua  mencoba  untuk
belajar  semua  hal  yang  kita  bisa,  selama
kita berada di tanah  rantauan ini, karena
ada  pepatah  yang    mengatatakan:
“Setinggi-tingginya  Bangau terbang,  pasti
hinggapnya di kekubangan.
Kemanapun  seseorang  pergi  merantau,
pasti akan kembali ke tanah asalnya”
Seseorang akan  mengatakan “saya
tidak  tau  atau  tidak  bisa  melakukan  ini
dan  itu  karena  sebelumnya  ia  belum
pernah  mencoba  untuk  melakukakannya.
Maka  tidak  ada  salahnya  jika  kita
mencoba untuk mengejar impian yang ada
di benak kita.
Dari kata wakkaawok inilah, penulis
dan kawan –  kawan menjadikannya sebagai
sebuah nama yaitu

“ Wakkaawok Kunume”

Sabtu, 29 November 2014

Anak-Anak SMP-SMA Kristen Setia Budi Malang Lestarikan Budaya Bakar Batu Dari Pulau Jawa

BUDAYA BARAPEN TETAP BERJALAN WALAUPUN SEKOLAH DI TANAH JAWA

Anak -anak Puncak Jaya yang sekolah di SMP-SMA Kristen Setia Budi Malang  Jawa Timur tetap memanfaatkan waktu liburannya untuk menggelar acara barapen atau bakar batu. anak -anak ini memakai waktu liburan mereka untuk menggelar budaya yang diwariskan nenek moyang mereka. acara bakar batu digelar untuk melestarikan sekaligus sebagai salah satu kewajiban generasi penerus sebagai pewaris budaya leluhur. Upacara barapen berlangsung dibelakang halaman asrama sekolah.

Herannya, dalam upacara barapen ini anak-anak asli jawa juga ikut berbagian atau partisipasi baik itu dalam proses barapen berlangsung atau dalam santap bersama hasil barapen (bakar batu). bukan hanya itu, anak-anak yang berasal dari Nias, Sumatera Utara pun ikut berbagian, lebih herannya lagi, anak-anak khususnya bukan anak-anak papua sudah bercakap satu-dua kata dalam Bahasa dani (Lani Wone). ini adalah salah satu kebanggan tersendiri bagi kita asli orang Papua karena tetap bisa melestarikan budaya leluhur dan nenek moyong kita.

salah seoarang guru sekalian Pembina asrama Kristen setia Budi Malang mengatakan yang berasal dari Pulau Nias Sumatera utara Mangaku:
" Makanan hasil bakar batu (barapen) sangat baik, karena tidak memakai bumbu-bumbu penngawet seperti pada umumnya, selain itu makanan hasil barapen mempunyai aroma yang khas"

Penilaian-penilaian positif yang datang dari Pihak Guru atau penduduk setempat membuat anak-anak ini semakin giat dan ikut berbagian dalam berbagai karnaval budaya yang dimeriakan dalam penyambutan bulan bahasa setiap tahun sekali. 
ini adala suatu kebanggaan dan motivasi bagi semua orang papua dimanapun berada tetap melestarikan dan mengimplementasikan nilai-nilai positif dari kebudayaan papua yang bisa dibagikan.


Foto-Foto Upacara Bakar batu:
 santai bersama, anak asli Jawa dan Papua


 Proses Bakar Batu


 Anak-anak Bukan dari Papua turut Berbagian dalam acara Barapen









 santap Bersama Hasil Barapen