Kamis, 01 Februari 2018

Apa kabar Puncak Jaya?



 foto SMN1 Mulia (sumber: Sekolah kita)

Tujuan pembangunan dalam suatu negara  menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, bukan hanya alat bagi pembangunan. Dalam kerangka ini maka pembangunan di daerah Puncak Jaya ditujukan untuk meningkatkan kualitas penduduk melalui program pembangunan manusia. Pembangunan manusia memperkenalkan konsep yang lebih luas dan lebih komprehensif yang mencakup semua pilihan yang dimiliki oleh manusia di semua golongan masyarakat pada semua tahapan pembangunan. Pembangunan manusia juga merupakan perwujudan tujuan jangka panjang dari suatu masyarakat dan meletakkan pembangunan di sekeliling manusia,
bukan manusia di sekeliling pembangunan”


Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya dan tujuan utama dari pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi rakyat untuk menikmati umur panjang, sehat dan menjalankan kehidupan yang produktif. Penyertaan konsep pembangunan manusia dalam kebijakan-kebijakan pembangunan sama sekali tidak berarti meninggalkan berbagai strategi pembangunan terdahulu, antara lain : mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan dan mencegah perusakan lingkungan. Namun, perbedaannya adalah bahwa dari sudut pandang pembangunan manusia, semua tujuan tersebut diatas didefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk. Agar konsep pembangunan manusia dapat diterjemahkan ke dalam perumusan kebijakan, pembangunan manusia harus dapat diukur dan dipantau dengan mudah.
 

Ada dua hal penting yang menjadi prioritas dalam pembangunan manusia yaitu, Pendidikan dan kesehatan. Pedidikan dan kesehatan ini dua hal yang tidak dapat dipisahkan, juga dua hal yang tidak bisa, satunya didahulukan dan satunya dikebelakangkan. Dalam pembangunan kedua aspek ini harus berjalan bersama.  Dalam perjalanannya, kedua aspek ini dipengaruhi oleh  beberapa aspek pendukung lainnya. pendidikan di pengaruhi oleh Jumlah sekolah, jumlah guru, kualitas guru, jarak sekolah dengan permukiman warga dan lainnya. Sedangkan kesehatan dipengaruhi oleh Jumlah RS, Puskesmas, Jumlah dokter, dan bebera lainnya.


Bagaimana perjalanan kedua aspek ini di Puncak Jaya, apakah mereka berjalan bersama seperti semestinya? Apakah mereka berjalan masing masing, atau mereka berdiri di tempat? Ataukah mereka mala berjalan mundur? Berikut ulasan sedikit kondisi pendidikan dan kesehatan di Puncak Jaya.


Kondisi Pendidikan  di  Puncak  Jaya

Dilansir dalam Tabloid Jubi, Kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud), menyatakan sekitar 2,07 persen atau 3,4 juta warga Indonesia masih belum mengenal huruf dan membaca.  Kondisi tersebut tersebar di sekitar 11 propinsi di Indoesia. Dari 11 propinsi tersebut, Papua menempati urutan pertama dengan 28, 75 persen warganya belum mampu mengenal huruf dan membaca, disusul NTT 4,58 %, sulawesi barat 4,50% dst. (Tabloid Jubi, edisi selasa 12/9/17)

Jika dilihat dari pembangunannya, pembangunan dari aspek pendidikan, di Puncak Jaya hingga kini belum merata. Dari 26 distrik, hanya beberapa distrik yang terdapat fasilitas pendidikan dasar (SD), yang lainnya tidak. Bahkan ada beberapa distrik yang sama sekali tidak  terdapat fasilitas pendidikan Dasar, misalnya Ilambutawi, Kalome, Kiyage, Molonikime dan Taganobak, sedangkan yang lainnya hanya terdapat sekolah namun tidak ada murid dan guru, misalnya Dagai dan Wanuwi. Hanya beberapa distrik yang memiliki guru dan sekolah. sedangkan untuk fasilitas SMP, hanya terdapat 7 SMP, yaitu di distrik Ilu, Mulia, Nioga, Fawi, tingginambut dan Yamo. Sedangkan untuk  SMA/SMK hanya terdapat 4, yaitu ilu, Mulia dan Nioga. (Lihat tabel 1)

Tabel  1. Jumlah Sekolah dan Guru di Puncak Jaya Tahun 2017
No
Distrik
SD
SMP
SMA/SMK
Jumlah SD
Murid
Guru
Jumlah SMP
Murid
Guru
Jumlah SMA/K
Murid
Guru
1
Dagai
1
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
2
  Dokome
2
175
3






3
Fawi
1
280
3
1
122
3



4
 Gubume
2
249
6
   -
   -
   -
   -
   -
   -
5
 Guragi
2
177
2
   -
   -
   -
   -
   -
   -
6
 Ilambutawi
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
7
   Ilu
4
717
14
1
324
14
1
144
7
8
 Irimuli
2
350
17






9
  Kalome
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
10
   Kiyage
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
11
  Lumo
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
12
 Mewoluk
   -
   -
   -
1
63
8
   -
   -
   -
13
Molonikime
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
14
  Muara
2
42
23






15
Mulia
3
902
34
1
384
20
2
522
32
16
Nioga
1
156
4
1
114
3
1
99
9
17
 Nume
1
239
3
   -
   -
   -
   -
   -
   -
18
Pageleme
1
310
10
   -
   -
   -
   -
   -
   -
19
 Taganombak



   -
   -
   -
   -
   -
   -
20
 Tingginambut
1
113
4
1
109
7
   -
   -
   -
21
 Torere
1
156
3
   -
   -
   -
   -
   -
   -
22
  Waegi
3
182
6






23
Wanuwi
1
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
24
 Jambi
1
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
   -
25
 Yamo
2
167
8
1
88
3
   -
   -
   -
26
yamoneri
3
478
10
   -
   -
   -
   -
   -
   -
Jumlah
33
4693
150
7
1204
58
4
765
48
Sumber: Puncak Jaya Dalam Angka 2017







Jika dilihat dari komposisi guru dan murid, maka rasio guru dan muridnya sangat jauh sekali. dalam peraturan pendidikan Nasional menyebutkan  idealnya untuk pendidikan dasar (SD) rasio idealnya adalah 15:1, untuk SMP rasio idealnya 20:1, sedangkan SMA/SMK sederajat, rasio idealnya  20:1.
Namun bagaimana dengan 280 murid SD yang diajar hanya oleh 3 guru di Fawi, atau 177 murid SD yang dianjar oleh 2 Guru Guragi, atakah 114 murid SMP yang diajar hanya oleh 3 Guru di Nioga. Kondisi ini sangat jelas tidak ideal bagi siswa untuk memdapatkan kualitas pendidikan yang layak. Apalagi dengan fasilitas yang tidak mendukung, jarak sekolah yang jauh dengan permukiman penduduk, atau guru yang sering keluar dari tempat tugas.  Hal ini  menjadi kendala besar dalam pengembangan pendidikan di Puncak Jaya. Hal-hal inilah yang membuat masih tingginya angka buta huruf, masih tingginya anak2 usia sekolah yang tidak sekolah.
 
Sedangkan menurut data dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kabupaten Puncak Jaya 2017 menunjukan angka partisipasi sekolah di Puncak Jaya masih rendah. partisipasi sekolah penduduk 10 tahun ke atas di kabupaten ini sangat rendah. Hanya 14,24 persen penduduk yang masih bersekolah dan sebesar 37,22 persen tidak bersekolah lagi. Bahkan 48,54 persen penduduk berusia 10 tahun ke atas di Kabupaten Puncak Jaya tidak/ belum pernah sekolah. Menurut jenis kelamin, partisipasi sekolah penduduk laki-laki lebih tinggi daripada penduduk perempuan. Tabel 4.4 menunjukkan sebesar 50,60 persen penduduk perempuan berusia 10 tahun ke atas di kabupaten ini tidak/belum pernah sekolah, sedangkan penduduk laki-laki yang tidak/belum pernah sekolah sebesar 46,81 persen. (Lihat tabel 4.4)



Pada akhirnya timbul berbagai masalah sosial terhadap  generasi muda Puncaka Jaya, seperti anak menjadi tukang mabuk, menjadi tukang curi  atau tukang aibon. Hal ini karena mereka tidakmendapatkan kesempatan pendidikan yang sama dengan anak2 lain di luar puncak Jaya.

Melihat ini, bagaimana tanggapan kita? kita yang sebagai anak yang lahir besar di Puncak Jaya (LABEPUJA), atau kita yang sebagai anak asli Puncak Jaya. apakah kita hanya menonton mereka tetap terbelakang, atau kita harus turun terlibat? Itu tergantung bagaimana kita bertindak. Kita bukun dituntut untuk menjadi guru, namun setidaknya kita punya kontribusi untuk mengurangi ini..

Karena pendidikan bukan hanya tugas guru namun pendidikan yang baik perlu campur tangan seluruh elemen, Terutama anak muda. 


Kondisi Kesehatan Di Puncak Jaya


Selain pendidikan, kesehatan merupakan komponen pertumbuhan dan
pembangunan yang vital dan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar.
Kesehatan merupakan inti kesejahteraan karena turut membentuk kemampuan
manusia yang lebih luas yang berada pada inti makna pembangunan, bahkan dalam konteks ekonomi, kesehatan merupakan salah faktor yang mempengaruhi produktivitas seseorang (Todaro dan Smith, 2006).
Di aspek kesehatan, di Puncak juga tidak merata pelayan kesehatnnya. Bahkan menurut kepala bidang pencegahan Propinsi Papua dr. Aaron Rumai Num mengatakan pihaknya menemukan belasan anak dalam kondisi gangguan fisik. Setelah terjun langsung ke Puncak Jaya, pada 13 mei 2016 lalu ditemukan sebanyak 14 anak yang dicurigai mengalami gangguan tumbuh kembang dan polio, karena faktor geografis. 14 anak tersebut berasal dari distrik Ilu, Mulia dan Tingginambut. Masalah ke 14 anak ini karena kurang optimalnya imunisasi dan pemeriksaan ibu hamil[1]
Selain itu, menurut data BPS puncak jaya menunjukkan, Puncak jaya kini hanya terdapat 1 unit Rumah sakit, sedangkan angka penderita penyakit masih tinggi.


Tahukah anda, dimana rumah sakit terbaik di Pengunungan Papua pada Tahun 1970an sampai dengan tahun 2000an awal?

Rumah sakit dengan pelayanan terbaik di tahun itu adalah Kabupaten Puncak Jaya adalah  RS. IMMANUEL. RS. Immanuel menjadi rumah sakit terbaik di Pengunungan tengah Papua. Bahkan pernah RS. Immanuel pernah menerima rujukan Pasien dari Jayapura untuk dirawat di RS.Immanuel Mulia. Saat itu RS. Imanuel menjadi RS.Terbaik sepengunungan Papua saat itu. Selain itu RS. Immanuel adalah satu-satunya Rumah sakit yang dirancang dengan mempunyai landasan terbang sendiri di Indonesia. Bahkan tingkat kesehatan masyarakat di Puncak Jaya saat itu tinggi, karena saat itu hampir semua gereja saat itu dibangun Polik klinik dan pelayanan kesehatan berjalan merata.

Namun setelah berjalan beberapa tahun, memasuki tahun 2000an awal, Pelayanan RS. Immanuel menurun, bahkan pada tahun 2013 RS. Immanuel ditutup. Semua pelayanan kesehatan terpusat di RS. Umum Puncak Jaya.


Akibat  kurang pahamnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan cara hidup sehat ditambah lagi dengan sarana dan prasarana kesehatan yang masih kurang atau jauh dari standar minimum membuat angka kematian bayi dan balita di Puncak Jaya masih tinggi.

Itulah  sekilas tentang kondisi pendidikan dan kesehatan di Puncak Jaya. masalah sesehatan dan pendidikan hanyalah sebagian kecil dari ribuan banyak masalah yang ada di Puncak Jaya. 

Sehingga masalah kesehatan di Puncak Jaya bukan hanya urusan bidan dan dokter..

Pendidikan bukan hanya urusan guru..
Keamanan dan ketertiban bukan hanya tugas polisi..
Tapi semua masalah di puncak Jaya membutuhkan kita semua, apalagi kita sebagai anak-anak muda. Bukan hanya orang tua di Puncak jaya saja yang butuh kita, namun alam Puncak jaya juga butuh Kita..maka kita harus berbuat sesuatu untuk Puncak Jaya..wa..

NB: Bahan diskusi Oleh Pemuda Peduli Generasi Puncak Jaya dalam Diskusi temu kangen angkatan SMAN 1 Mulia, Pinggir Danau sentani 2018




[1] Dilansir dalam kompas.com edisi 1 Juni 2016