foto SMN1 Mulia (sumber: Sekolah kita)
Tujuan
pembangunan dalam suatu negara
menempatkan manusia sebagai tujuan akhir
dari pembangunan, bukan hanya alat bagi pembangunan. Dalam kerangka ini maka
pembangunan di daerah Puncak Jaya ditujukan untuk meningkatkan kualitas
penduduk melalui
program pembangunan manusia. Pembangunan manusia memperkenalkan konsep yang
lebih luas dan lebih komprehensif yang mencakup semua pilihan yang
dimiliki
oleh manusia di semua golongan masyarakat pada semua tahapan pembangunan.
Pembangunan manusia juga merupakan perwujudan tujuan jangka panjang
dari suatu masyarakat dan “meletakkan pembangunan
di sekeliling manusia,
bukan manusia di sekeliling pembangunan”
bukan manusia di sekeliling pembangunan”
Manusia
adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya dan tujuan utama dari pembangunan
adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi rakyat untuk menikmati umur panjang, sehat dan
menjalankan kehidupan yang produktif. Penyertaan konsep pembangunan manusia
dalam kebijakan-kebijakan pembangunan sama sekali tidak berarti
meninggalkan berbagai strategi pembangunan terdahulu,
antara lain : mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan dan
mencegah perusakan lingkungan. Namun, perbedaannya adalah bahwa dari sudut pandang
pembangunan manusia, semua tujuan tersebut diatas didefinisikan sebagai proses
perluasan pilihan bagi penduduk. Agar konsep pembangunan manusia dapat
diterjemahkan ke dalam perumusan kebijakan, pembangunan manusia harus dapat
diukur dan dipantau dengan mudah.
Ada dua hal
penting yang menjadi prioritas dalam pembangunan manusia yaitu, Pendidikan dan
kesehatan. Pedidikan dan kesehatan ini dua hal yang tidak dapat dipisahkan,
juga dua hal yang tidak bisa, satunya didahulukan dan satunya dikebelakangkan.
Dalam pembangunan kedua aspek ini harus berjalan bersama. Dalam perjalanannya, kedua aspek ini
dipengaruhi oleh beberapa aspek
pendukung lainnya. pendidikan di pengaruhi oleh Jumlah sekolah, jumlah guru,
kualitas guru, jarak sekolah dengan permukiman warga dan lainnya. Sedangkan
kesehatan dipengaruhi oleh Jumlah RS, Puskesmas, Jumlah dokter, dan bebera
lainnya.
Bagaimana
perjalanan kedua aspek ini di Puncak Jaya, apakah mereka berjalan bersama
seperti semestinya? Apakah mereka berjalan masing masing, atau mereka berdiri
di tempat? Ataukah mereka mala berjalan mundur? Berikut ulasan sedikit kondisi
pendidikan dan kesehatan di Puncak Jaya.
Kondisi Pendidikan di Puncak Jaya
Dilansir
dalam Tabloid Jubi, Kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud),
menyatakan sekitar 2,07 persen atau 3,4 juta warga Indonesia masih belum
mengenal huruf dan membaca. Kondisi
tersebut tersebar di sekitar 11 propinsi di Indoesia. Dari 11 propinsi
tersebut, Papua menempati urutan pertama dengan 28, 75 persen warganya belum
mampu mengenal huruf dan membaca, disusul NTT 4,58 %, sulawesi barat 4,50% dst.
(Tabloid Jubi, edisi selasa 12/9/17)
Jika dilihat dari pembangunannya,
pembangunan dari aspek pendidikan, di Puncak Jaya hingga kini belum merata.
Dari 26 distrik, hanya beberapa distrik yang terdapat fasilitas pendidikan
dasar (SD), yang lainnya tidak. Bahkan ada beberapa distrik yang sama sekali
tidak terdapat fasilitas pendidikan
Dasar, misalnya Ilambutawi, Kalome, Kiyage, Molonikime dan Taganobak, sedangkan
yang lainnya hanya terdapat sekolah namun tidak ada murid dan guru, misalnya
Dagai dan Wanuwi. Hanya beberapa distrik yang memiliki guru dan sekolah. sedangkan
untuk fasilitas SMP, hanya terdapat 7 SMP, yaitu di distrik Ilu, Mulia, Nioga,
Fawi, tingginambut dan Yamo. Sedangkan untuk
SMA/SMK hanya terdapat 4, yaitu ilu, Mulia dan Nioga. (Lihat
tabel 1)
Tabel 1. Jumlah Sekolah dan Guru di Puncak Jaya
Tahun 2017
|
||||||||||
No
|
Distrik
|
SD
|
SMP
|
SMA/SMK
|
||||||
Jumlah SD
|
Murid
|
Guru
|
Jumlah SMP
|
Murid
|
Guru
|
Jumlah SMA/K
|
Murid
|
Guru
|
||
1
|
Dagai
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
2
|
Dokome
|
2
|
175
|
3
|
||||||
3
|
Fawi
|
1
|
280
|
3
|
1
|
122
|
3
|
|||
4
|
Gubume
|
2
|
249
|
6
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
5
|
Guragi
|
2
|
177
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
6
|
Ilambutawi
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7
|
Ilu
|
4
|
717
|
14
|
1
|
324
|
14
|
1
|
144
|
7
|
8
|
Irimuli
|
2
|
350
|
17
|
||||||
9
|
Kalome
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
10
|
Kiyage
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
11
|
Lumo
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
12
|
Mewoluk
|
-
|
-
|
-
|
1
|
63
|
8
|
-
|
-
|
-
|
13
|
Molonikime
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
14
|
Muara
|
2
|
42
|
23
|
||||||
15
|
Mulia
|
3
|
902
|
34
|
1
|
384
|
20
|
2
|
522
|
32
|
16
|
Nioga
|
1
|
156
|
4
|
1
|
114
|
3
|
1
|
99
|
9
|
17
|
Nume
|
1
|
239
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
18
|
Pageleme
|
1
|
310
|
10
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
19
|
Taganombak
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|||
20
|
Tingginambut
|
1
|
113
|
4
|
1
|
109
|
7
|
-
|
-
|
-
|
21
|
Torere
|
1
|
156
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
22
|
Waegi
|
3
|
182
|
6
|
||||||
23
|
Wanuwi
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
24
|
Jambi
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
25
|
Yamo
|
2
|
167
|
8
|
1
|
88
|
3
|
-
|
-
|
-
|
26
|
yamoneri
|
3
|
478
|
10
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Jumlah
|
33
|
4693
|
150
|
7
|
1204
|
58
|
4
|
765
|
48
|
|
Sumber:
Puncak Jaya Dalam Angka 2017
|
||||||||||
Jika dilihat dari komposisi guru
dan murid, maka rasio guru dan muridnya sangat jauh sekali. dalam peraturan
pendidikan Nasional menyebutkan idealnya
untuk pendidikan dasar (SD) rasio idealnya adalah 15:1, untuk SMP rasio
idealnya 20:1, sedangkan SMA/SMK sederajat, rasio idealnya 20:1.
Namun bagaimana dengan 280 murid
SD yang diajar hanya oleh 3 guru di Fawi, atau 177 murid SD yang dianjar oleh 2
Guru Guragi, atakah 114 murid SMP yang diajar hanya oleh 3 Guru di Nioga.
Kondisi ini sangat jelas tidak ideal bagi siswa untuk memdapatkan kualitas pendidikan
yang layak. Apalagi dengan fasilitas yang tidak mendukung, jarak sekolah yang
jauh dengan permukiman penduduk, atau guru yang sering keluar dari tempat tugas.
Hal ini menjadi kendala besar dalam pengembangan
pendidikan di Puncak Jaya. Hal-hal inilah yang membuat masih tingginya angka
buta huruf, masih tingginya anak2 usia sekolah yang tidak sekolah.
Sedangkan menurut data dalam
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kabupaten Puncak Jaya 2017 menunjukan angka partisipasi
sekolah di Puncak Jaya masih rendah. partisipasi
sekolah penduduk 10 tahun ke atas di kabupaten ini sangat rendah. Hanya 14,24
persen penduduk yang masih bersekolah dan sebesar 37,22 persen tidak
bersekolah lagi. Bahkan 48,54 persen
penduduk berusia 10 tahun ke atas di Kabupaten Puncak Jaya tidak/ belum pernah sekolah.
Menurut jenis kelamin, partisipasi sekolah penduduk laki-laki lebih tinggi daripada
penduduk perempuan. Tabel 4.4 menunjukkan sebesar 50,60 persen penduduk perempuan
berusia 10 tahun ke atas di kabupaten ini tidak/belum pernah sekolah, sedangkan
penduduk laki-laki yang tidak/belum pernah sekolah sebesar 46,81 persen. (Lihat tabel 4.4)
Pada akhirnya timbul berbagai masalah sosial
terhadap generasi muda Puncaka Jaya,
seperti anak menjadi tukang mabuk, menjadi tukang curi atau tukang aibon. Hal ini karena mereka
tidakmendapatkan kesempatan pendidikan yang sama dengan anak2 lain di luar
puncak Jaya.
Melihat ini, bagaimana tanggapan kita? kita
yang sebagai anak yang lahir besar di Puncak Jaya (LABEPUJA), atau kita yang
sebagai anak asli Puncak Jaya. apakah kita hanya menonton mereka tetap
terbelakang, atau kita harus turun terlibat? Itu tergantung bagaimana kita
bertindak. Kita bukun dituntut untuk menjadi guru, namun setidaknya kita punya
kontribusi untuk mengurangi ini..
Karena pendidikan bukan hanya tugas guru namun pendidikan yang
baik perlu campur tangan seluruh elemen, Terutama anak muda.
Kondisi Kesehatan Di Puncak
Jaya
Selain pendidikan, kesehatan merupakan komponen
pertumbuhan dan
pembangunan yang vital dan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar.
Kesehatan merupakan inti kesejahteraan karena turut membentuk kemampuan
manusia yang lebih luas yang berada pada inti makna pembangunan, bahkan dalam konteks ekonomi, kesehatan merupakan salah faktor yang mempengaruhi produktivitas seseorang (Todaro dan Smith, 2006).
Di aspek kesehatan, di Puncak juga tidak merata pelayan
kesehatnnya. Bahkan menurut kepala bidang pencegahan Propinsi Papua dr. Aaron
Rumai Num mengatakan pihaknya menemukan belasan anak dalam kondisi gangguan
fisik. Setelah terjun langsung ke Puncak Jaya, pada 13 mei 2016 lalu ditemukan
sebanyak 14 anak yang dicurigai mengalami gangguan tumbuh kembang dan polio,
karena faktor geografis. 14 anak tersebut berasal dari distrik Ilu, Mulia dan
Tingginambut. Masalah ke 14 anak ini karena kurang optimalnya imunisasi dan
pemeriksaan ibu hamil[1]
pembangunan yang vital dan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar.
Kesehatan merupakan inti kesejahteraan karena turut membentuk kemampuan
manusia yang lebih luas yang berada pada inti makna pembangunan, bahkan dalam konteks ekonomi, kesehatan merupakan salah faktor yang mempengaruhi produktivitas seseorang (Todaro dan Smith, 2006).
Selain itu, menurut data BPS puncak jaya
menunjukkan, Puncak jaya kini hanya terdapat 1 unit Rumah sakit, sedangkan
angka penderita penyakit masih tinggi.
Tahukah anda, dimana rumah sakit terbaik di
Pengunungan Papua pada Tahun 1970an sampai dengan tahun 2000an awal?
Rumah sakit dengan pelayanan terbaik di
tahun itu adalah Kabupaten Puncak Jaya adalah
RS. IMMANUEL. RS. Immanuel menjadi rumah sakit terbaik di Pengunungan
tengah Papua. Bahkan pernah RS. Immanuel pernah menerima rujukan Pasien dari
Jayapura untuk dirawat di RS.Immanuel Mulia. Saat itu RS. Imanuel menjadi
RS.Terbaik sepengunungan Papua saat itu. Selain itu RS. Immanuel adalah
satu-satunya Rumah sakit yang dirancang dengan mempunyai landasan terbang
sendiri di Indonesia. Bahkan tingkat kesehatan masyarakat di Puncak Jaya saat
itu tinggi, karena saat itu hampir semua gereja saat itu dibangun Polik klinik
dan pelayanan kesehatan berjalan merata.
Namun setelah
berjalan beberapa tahun, memasuki tahun 2000an awal, Pelayanan RS. Immanuel
menurun, bahkan pada tahun 2013 RS. Immanuel ditutup. Semua pelayanan kesehatan
terpusat di RS. Umum Puncak Jaya.
Akibat kurang pahamnya pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan dan cara hidup sehat ditambah lagi dengan sarana dan
prasarana kesehatan yang masih kurang atau jauh dari standar minimum membuat
angka kematian bayi dan balita di Puncak Jaya masih tinggi.
Itulah sekilas tentang kondisi pendidikan dan
kesehatan di Puncak Jaya. masalah sesehatan dan pendidikan hanyalah sebagian
kecil dari ribuan banyak masalah yang ada di Puncak Jaya.
Sehingga
masalah kesehatan di Puncak Jaya bukan hanya urusan bidan dan dokter..
Pendidikan
bukan hanya urusan guru..
Keamanan
dan ketertiban bukan hanya tugas polisi..
Tapi
semua masalah di puncak Jaya membutuhkan kita semua, apalagi kita sebagai
anak-anak muda. Bukan hanya orang tua di Puncak jaya saja yang butuh kita,
namun alam Puncak jaya juga butuh Kita..maka kita harus berbuat sesuatu untuk
Puncak Jaya..wa..
NB: Bahan diskusi Oleh Pemuda Peduli Generasi Puncak Jaya dalam Diskusi temu kangen angkatan SMAN 1 Mulia, Pinggir Danau sentani 2018
