Jumat, 10 Maret 2017

Ibu Adalah Seorang Pembohong




 Gbr : Perjuangan Seorang Ibu )


Memang sulit bagi seseorang untuk percaya, akan tetapi inilah kenyataannya. Ibu saya memang seorang pembohong!! Sepanjang ingatan saya, sedikitnya lima kali ibu membohongi saya. Semua kebohongan ibu saya catat baik-baik agar dapat menjadi bahan renungan semua anak yang terlahir kebumi ini.
  Kisah ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai anak laki-laki dalam sebuah keluarga yang sangat miskin. Makan dan minum serba kekurangan dan kami sering kelaparan. Sebagai anak kecil, saya sering merajuk. Saya sering menangis untuk mendapatkan nasi dan lauk yang lebih banyak. Dan ibu sering membujuk saya agar diam dengan membagikan sebagian nasinya untuk saya seraya berkata,“makanlah nak, ibu tidak lapar.” Inilah kebohangan ibu yang pertama.

  Ketika saya mulai besar, ibu sering meluangkan waktu untuk pergi memancing disungai dekat rumah kami. Ibu berharap, ikan hasil pancingan dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami kakak beradik. Pulang dari memancing, ibu memasak gulai ikan yang segar dan mengundang selera. Kami kakak beradik menyantap masakan ibu itu dengan lahap, sedangkan ibu duduk memandang kami. Dengan wajah yang menyiratkan kebahagiaan, ibu memakan sisa daging ikan yang masih menempel ditulang. Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh, lalu dengan menggunakan sendok, saya memberikan ikan yang saya miliki kepada ibu. Tetapi, ibu dengan cepat menolaknya sembari berkata, “Makanlah Nak, ibu tidak suka makan ikan” Inilah kebohongan ibu kedua.

Ketika saya masuk SMU, ibu pergi kewarung dengan membawa sejumlah sapu lidi dan kue-kue untuk membiayai sekolah kami. Suatu malam, lebih kurang pukul 01:00 dini hari saya terjaga dari tidur. Saya sedang melihat ibu membuat kue dengan sedikit disinari lampu dihadapannya. Berapa kali saya melihat kepala ibu mengangguk karena mengantuk. Saya berkata, “Ibu...tidurlah...besok pagi ibu kan masih harus pergi ke kebun” ibu pun tersenyum dan berkata, “tidurlah nak, ibu belum mengantuk.” Inilah kebohongan ibu yang ke tiga.

  Setelah tamat perguruan tinggi, saya melanjutkan lagi pendidikan selanjutnya di luar negeri. Pendidikan saya sepenuhnya di biayai oleh perusahaan besar. Akhirnya pendidikan itupun telah saya selesaikan dengan cemerlang. Kemudian saya bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai pendidikan saya. Dengan gaji yang cukup lumayan, saya mempunyai niat untuk mengajak ibu pergi menikmati penhujung hidup di luar negri. Menurut pandangan saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, alangkah baiknya kalau hari-hari tuanya ini dihabiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu tidak mau menyusahkan anaknya dengan berkata. “tidak usah nak, ibu tidak bisa tinggal di negri orang” inilah kebohongan ibu yang keempat.

  Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima kabar bahwa diserang penyakit kanker. Ibu mesti di operasi secepat ungkin. Saya yang ketika itu masih diluar negeri langsung pulang untuk melihat ibu dirumah sakit. Saya melihat ibu lemah terbaring dikasur, karena telah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman, biarpun sedikit kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap bagian tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa dahsyatnya penyakit itu tertanam ditubuh ibu sehingga ibu menjadi terlalu kurus an lemah. Saya menatap ibu sambil berlinang air mata. Saya cium tangannya, kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Disaat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti itu. Tetapi ibu tetap tersenyum sambil berkata, “jangan nangis nak, ibu tidak sakit.” Inilah kebohongan ibu yang kelima.

 Setelah mengucapkan kebohongan yang kelima itu, ibunda tercinta meninggal dunia dan menutu mata untuk selama-lamanya. Bagi anda yang masih mempunyai ibu dan ayah, bersyukurlah. Anda boleh memeluk dan menciumnya. Kalau ibu anda jauh dari mata, anda boleh meneleponnya sekarang dan berkata, “ibu, saya sangat menyayangimu.” Jangan seperti saya....... saya dihantui rasa bersalah yang sangat besar karena sekalipun saya tidak pernah membisikan kata-kata itu ketelinga ibu, hingga akhir ibuku tercinta menghembuskan nafas terakhirnya.


*Artikel ini dirangkum dari warta berita santri (pondok pesantren Ibnul Amin

 Pamangkih Banjarmasin kalimantan selatan)