Oleh:
Neson. E
Gambar : Logo Gereja GIDI (Sumber :Google, Doc)
“Tetapi kamu
akan menerima kuasa, kalau Roh kudus akan turun ke atas Kamu, dan kamu akan
menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke
ujung Bumi.”
Kis 1:8
Untaian ayat di atas adalah salah satu perintah amanat
agung Tuhan Yesus sebelum terangkat ke surga. Ayat ini menjadi dasar berdirinya
Gereja Injili di Indonesia. Kini GIDI telah mencapai usia yang ke 54 Tahun
(2017), usia yang sudah tidak lagi muda.
Jika usia GIDI diibaratkan dengan umur manusia, maka
GIDI kini sudah mempunyai banyak anak, bahkan
cucu. Namun tahukah anda, bagaimana kisah sepak terjang dan asal
usul dibalik perkembangan GIDI saat ini?
Bagaimana para pujangga mula-mula mendirikan GIDI yang saat ini ?
Berikut adalah kisah sejarah singkat GIDI yang penulis
ingin bagikan.
1.
Sepenggal Kisah Hidup-Mati Perjalanan Missionaris Ke Daerah Suku Lani
Ratusan Tahun
di daerah Pengunungan Papua masih gelap oleh berita Injil. walaupun saat itu injil
sudah masuk di tanah Papua melalui dua missionaris asal Belenda dan Jerman, Ottow-Geissler pada tahun 1855 di Pulau
Mansinam Manokwari (5 Februari 1855), namun injil saat itu hanya berkembang di
daerah pesisir Pantai. sehingga Daerah Pengunungan Papua masih gelap oleh
berita Injil.
Pada Tahun 1951-1954 Setelah merintis pos, membuka
lapangan terbang pertama di Senggi , sehingga pada tanggal 20 Januari
1955 ketiga misionaris beserta 7 orang pemuda dari Senggi terbang dari Sentani
tiba di Lembah Baliem di Hitigima menggunakan pesawat amphibi (Sealander). Kemudian mereka melanjutkan
misi dengan berjalan kaki dari Lembah Baliem ke arah Barat pegunungan
Jayawijaya melalui Piramid. Dari Piramid bertolak menyeberangi sungai Baliem
dan menyusuri sungai Wodlo dan tiba di Ilugwa. Dan menuju ke arah muara sungai
Ka'liga (Hablifura) dan akhirnya tiba di danau Archbol (Danau Abema) pada 21
Februari 1955.
Di pinggir danau inilah Camp injil pertama didirikan
dan meletakkan dasar wilayah teritorial penginjilan dengan dasar visi: "Menyaksikan
Kasih Kristus Kepada segala Suku Nieuw Guinea (Papua) ", yang
diambil dari Kisah Para Rasul 1:8.
Setelah meletakkan dasar injil ini , Mereka membuka
lapangan terbang di Archbold sambil mengadakan survei pengembangan pelayanan di
sekitar Bokondini dan Kelila dan akhirnya
pada tanggal 25 Maret 1955
pesawat jenis JZ-PTB Piper Pacer berhasil mendarat di Danau
Archbold.
Pada tanggal 28 April misionaris dari UFM (Unevangelized Fields Mission) , Gesswein
dan Widbin bersama Misionaris dari ABMS
(Australian Baptism Mission Society) lainnya meninggalkan Camp Injili di
Archbol dan bertolak menuju Bokondini, dan pada tanggal 1 Mei 1955 tiba di
Bokondini. Setelah tiba di Bokondini mereka
membuka lapangan terbang pertama
dan Pilot Dave Steiger mendaratkan
pesawat pertama kali di Bokondini pada tanggal 5 Juni 1965. Sejak itulah terbuka Pos penginjilan dari UFM dan APCM di Bokondini sebagai basis
penginjilan di seluruh pegunungan tengah Papua.
Selang dua tahun kemudian, Pada tanggal 5 Juni 1957, pesawat MAF (Mission Aviation Fellowship) pertama kali mendarat di Swart Valley ( sekarang disebut Karubaga Wilayah Toli),
Lalu pada bulan Agustus 1958, tiga orang missionaris dari UFM : Ralph Maynard (Tuan Mener) , Bert Power
dan Leon Dillinger (Tuan Telenggen ) berjalan kaki dari Karubaga menuju
ke daerah Yamo dan membuka lapangan terbang di Mulia. Pesawat pertama
mendarat di Mulia pada 12 Oktober 1958, dan kemudian pada 1960 membuka lapangan
terbang di Ilu.
2. “Hasil Tidak Pernah Mengkhianati Proses” Baptisan
Buah Hasil Pertama
“Hasil Tidak Pernah Mengkhianati Proses” inilah pepatah
yang mungkin bisa menggambarkan ketika melihat hasil perjuangan para
missionaris ini.
Setelah membuka pos-pos penginjilan dan mengabarkan
injil, maka diadakanlah baptisan pertama sebagai hasil dari Badan Misi UFM,
RBMU dan APCM di wilayah Bogondini, Kelila, Karubaga, Mamit, dan Yamo.
Orang-orang yang percaya dan dibaptis pertama dari wilayah tersebut yang penulis rangkum
dari Buku “ Sejarah Injil Masuk di
Wilayah Suku Lani”
Dari Wilayah Kelila sebanyak 7 Orang yang dibaptis
pada 29 Juli 1962, yaitu:
1.
Ki’Marek Karoba
dan Istrinya Lawingga Yikwa
2.
Yiyawon Yikwa
3.
Lararep Wanimbo
4.
Nu’nuk Pagawak
6.
Wuluwarek Yikwa
7.
Ugwa Kogoya
Dari wilayah Bogondini sebanyak 15 Orang yang dibaptis
pertama pada tanggal 16 September 1962 yaitu:
1.
Yan Mbini
Karoba dan Istrinya Paginawok Penggu
2.
Ndowan Wanimbo
dan istrinya Narorit Tabuni
3.
Mote Baminggen
dan istrinya Kerogonambit Penggu
4.
Longgop
Baminggen dan istrinya Kilarit Penggu
5.
Enggibaga
Baminggen dan istrinya Yanoba Pagawak
6.
Monenggen
Pagawak dan istrinya Nemini’mban
7.
Pirigin Penggu
dan istrinya Nona Pirigin Karoba
8.
Unakane karoba
Dari wilayah Karubaga Orang yang pertama mengaku dosa,
membakar semua ilmu guna-guna (sihir) yang dulu mereka pakai dan percaya kristus pada tanggal 24 Februari 1963 yaitu:
1.
Karubaga Onuwa
Yikwa
2.
Lenggwa Wanimbo
3.
Yambenggup Tabo
4.
Tuananggen
Yikwa
5.
Nano Eekwa
Kogoya*
6.
Yan Yikwa
7.
Wundowak Yikwa
8.
Yi’lele Kogoya
9.
Yarit Wanimbo
10.
Ogolunggen
Yikwa
11.
Muta Yikwa
12.
Yana Wandik
13.
Tibo Wanimbo
14.
Yaben Kogoya
15.
Laago Weya *
16.
Taniya Kogoya*
17.
Mamiranggen
Wandik*
18.
Yanengga Onuwa*
19.
Kanandi Mbogum*
20.
Liwiyakwe*
21.
Iringgawerak
Yikwa*
22.
Enak mberegwe
Yikwa*
23.
Yigibalomkwe*
24.
Nombanit*
25.
Wandikwe*
26.
Kogoyagwe*
27.
Wanimbogwe*
28.
Weyagwe*
29. Yikwagwe*
* Kemunkinan ada
kesalahan nama karena kurangnya data
Dari wilayah Kanggime Orang yang pertama mengaku dosa,
membakar semua ilmu guna-guna (sihir) yang dulu mereka pakai dan percaya kristus yaitu:
1.
Wunini’mban
Weya
2.
Yiganggan
Nggenongga
3.
Tiomangga
Nggurik
4.
Liwot Tenit
Nggurik
5.
Nggembiri
Mbiniluk
6.
Ogum Gire
7.
Tinagagim Weya
8.
Yoraga’mban
Wonda
9.
Wimili Gire
10.
Ambe Wonda
11.
Lingge Weya
12.
Ombat Wanena
13.
Weriyut Lambe
14.
Nggiyakwe Weya
15.
Mbi’mbet
Nggurik
16.
Kiyoma Nggurik
17.
Wabinanggen
Towolom
18.
Arigi Towolom
19.
Yumbuni’mban
Wanimbo
20.
Mbi’mben
Nggurik
21.
Yanggiru Narek
Dari wilayah Mamir (Mamit) Orang yang pertama mengaku
dosa, membakar semua ilmu guna-guna (sihir) yang dulu mereka pakai dan percaya kristus yaitu:
1.
Mirogo Nggembe
2.
Nggap Wanimbo
3.
Andugum Weya
4.
Enggawone
Kogoya
5.
Paku Tenit
Enumbi
6.
Egeno’mban
Enumbi
7.
Nggegola Enumbi
8.
Ngguri’mban
Enumbi
9.
Tarenggen Wonda
10.
Tuan Wakur
11.
Teretak Karoba
12.
Kabu’na Weya
13.
Ki’mban Enumbi
Dari wilayah Yamo (Mulia) orang-orang yang pertama
dibaptis pada 14 Juli tahun 1963 sebanyak 13 orang, yaitu:
1.
Wogoriya’Mban
dan istrinya Aligiyok Wonda
2.
Nggemende dan
istrinya Komonugwe
3.
Mbarit dan
istrinya
4.
Nggirinok Elabi
5.
Tibenok Enumbi
6.
Nggewone Enumbi
7.
Ondowa Elabi
8.
Ki Eeri’mban
Tabuni
9.
Nggun Wanena
10.
Ogo’ma Wonda
Selain 13 orang yang dibaptis pertama dari wilayah
Yamo (Mulia) diatas, ada 40 Orang ternama yang percaya Kristus Pertama Kali
dari Mulia namun mereka tidak dibaptis.
3. Pendirian Sekolah “Diajar untuk Menjarkan Lagi”
Perkembangan misi terus berkembang, semakin hari
semakin banyak yang percaya kepada Kristus dan dibaptis. Hal ini membuat
dibutuhkanlah semakin banyak pengajar
asli daerah untuk mengajar dan
memberitakan injil di pelosok-pelosok pengunungan Papua .
Maka didirikanlah sekolah alkitab di Aagobaga-Ilu, Sehingga orang-orang dari
Ilugwa-Wolo, Kelila, Bogondini, Ilu dan Mulia datang belajar di sekolah ini.
Sekolah ini diajar oleh Tuan Dilingger (Tuan Telenggen) serta istrinya serta
dibantu oleh Tuan Scovil (Tuan Kobo) dan istrinya.
Angkatan Pertama sekolah alkitab ini dibuka pada tahun
1964 dan penamatan angkatan pertama pada tahun 1967. Namun setelah 2 Tahun,
sekolah alkitab yang di Ilu dipindahkan ke Mulia. Disinilah orang-orang datang
belajar alkitab dalam bahasa Lani.
Berikut adalah beberapa nama-nama siswa pertama yang
tamat dari sekolah Alkitab di Mulia:
Dari Mulia dan Ilu:
2.
Tinggi’mban Telenggen
3.
Wa’lambuk Elabi
4.
Mbuguniyak Gire
5.
Ondowa Elabi
6.
Nggirinok Elabi
7.
Andilek Enumbi
8.
Lingge Kogoya
9.
Nggami Wonda
10.
Nggabunuk Gire
Dari Kelila dan Bokondini
1.
Owaganek
2.
Keboba Wanimbo
3.
Muruwe
4.
Kepeyom
5.
Yipu –Eerit
6.
Tigit-tigit
Wanimbo
7.
Kogane Yikwa
8.
Mbuti
9.
Nggalinggin
10.
Wule
11.
Paik
12.
Lo
13.
Legi’nggai
14.
Tupuanggen
Setelah lulus angkatan pertama, Tuan Dilingger melatih
lagi beberapa orang lulusan pertama untuk mengajar lagi sebagai guru di
sekolah Alkitab Mulia. Berikut adalah nama-nama yang menjadi guru Alkitab Mulia pertama dari Orang asli:
1. Pdt. Ondowa Elabi dari Mulia
2. Pdt. Yom Weya dari Bokondini
3. Pdt. Keboba Wanimbo dari Bokondini
4. Pdt. Arik Wonda dari Ilu
5. Pdt. Tigit-Tigit Wanimbo dari Bokondini
6. Pdt. Ineenik Tabuni dari Mulia
Dengan semakin majunya zaman UFM berpikir bahwa tidak cukup jika
lulusan hanya dari sekolah Alkitab Mulia, maka dikembangkanlah Sekolah Alkitab
dan Kejuruan di Irian Jaya (SAKIJ) dalam
bahasa Indonesia di Sentani. Kemudian dibangun lagi STAKIN yang setara dengan
SMA, dan kemudian dibangun lagi Sekolah Tinggi Theologi –Gereja Injili di
Indonesia (STT-GIDI) di Sentani.
Dengan adanya sekolah-sekolah ini, sekarang GIDI terus
berkembang hingga ke Pulau Jawa dan Sumatera .
4. Perjalanan
Berliku dibalik Menuju Nama “GIDI”
Pada umumnya Generasi GIDI tahu bahwa GIDI Lahir pada
tanggal 12 Februari 1962. Namun pernah
anda bertanya kenapa namanya harus “GIDI” bukan “KIKI, PGID, dst” ?
kenapa Ulang Tahunnya pada Tanggal 12 Februari? Kenapa tidak 25
Desember, supaya bersamaan dengan Natal, atau kenapa tidak tanggal 14 Februari
supaya bersamaan dengan hari kasih Sayang (Valentine Day)?. Apakah ini sebuah
kebetulan? Tidak!
Berikut penulis
mencoba uraikan sejarah singkat tentang ulang Tahun dan perubahan nama gereja
GIDI.
Setelah Gereja berkembang dan pekabaran Injil dilakukan dibawah naugan UFM Hingga pertemuan gereja pertama di Bokondini pada
Tahun 1961, sejak itu nama Gereja Saat
itu menjadi Gereja Injili Irian Barat (GIIB) yang bersifat gereja pribumi, hingga pada 1961, Juga diadakan Pertemuan Gereja pertama di Bokondini pada yang menghasilkan beberapa hal penting, yaitu:
1.
Nama gereja
Menjadi Gereja Injili Irian barat (GIIB)
2.
Terpilihnya Pdt
Nggun Wanena sebagai ketua Wilayah Yamo perta. Namun setelah 2 tahun digantikan
oleh Nggami Enumbi yang memimpin selami 5 tahun.
Pada waktu itu gereja pribumi ini semakin hari semakin
bertumbuh dan mengalami kemajuan yang sangat pesat, maka para pendiri
bekerjasama dengan Tiga Badan Misi APCM, UFM dan RBMU bersepakat untuk
mendirikan gereja dengan nama sendiri (terpisah dari gereja-gereja dari luar).
Akhirnya pada tanggal 12 Februari 1963 mereka
bersepakat memberi nama gereja ini pertama kali disebut Gereja Injili Irian
Barat (GIIB)
Kemudian Pada 12 september Tahun 1966 perwakilan dari
UFM Australia, UFM Amerika, RBMU berkumpul untuk bersatu dan menjadikan satu
gerena Nasional, akhirnya pada bulan februari diadakanlah konggres gereja
yang kedua di Kelila Pada 12 Februari
1967, diadakannyalah konggres gereja kedua. Dalam konggres kedua ini,
Gereja Injili di Irian Barat (GIIB) berubah nama menjadi Gereja Injili Irian
Jaya (GIIJ) dengan pengurus sinode sebagai berikut :
Ketua :
Keboba Wanimbo
Wakil :
Ondowa Elabi
Sekertaris :
Wuninip Weya
Bendahra :
Yawon Penggu
Dua tahun kemudian diadakan rapat sinode di Ilu pada
20-22 februari 1968, dalam rapat sinode ini menghasilkan Anggaran Dasar GIIJ
Pertama. Dua 2 tahun kemudian lagi ,
yaitu pada tahun 1970, melalui rapat sinode di Ilu, Nggun Wanena terpilih
menjadi ketua sinode.
Pada tahun 1971 diadakan rapat sinode di kelila. Dalam
rapat ini mensyahkan Anggaran dasar GIIJ, memilih Badan pengurus Sinode (BPS).
Badan pengurus yang terpilis saat itu adalah
Ketua :
Nggun Wanena
Wakil :
Yan Yikwa
Sekertaris :
Ki’maret Karoba
Bendahra :
Wuninimban Weya
Kemudian pada tanggal 18 November 1976 Pdt. Justin Parman dan Yakub Baminggen
mendatarkan Gereja Injili Irian Barat
(GIIB) di kementerian agama di jakarta .
Melihat berkembangnya gereja bukan hanya di Papua saja, namun di Pulau
Jawa, Sumatera dan Bali, maka GIIB di ganti nama menjadi Gereja Injili di
Indonesia (GIDI) pada 5 Agustus 1988
dalam sidang raya ke XIII di
Karubaga.
GIDI kembali didaftar ulang pada tanggal 6 Januari
1989 di departemen Agama. Maka sejak itulah Gereja Injili di Indonesia (GIDI) diakui dan
sah sesuai hukum hingga saat ini.
Sedangkan tanggal 12 Februari 1962
menjadi hari Lahir gereja GIDI
sesuai dengan tanggal berdirinya GIIB, sebelum berubah nama menjadi GIDI. Saat ini Gereja GIDI semakin berkembang , secara
keseluruhan terdiri dari 8 Wilayah Pelayanan di seluruh Indonesia. Terdiri atas
61 Klasis, 11 Calon Klasis.
Itulah sejarah
perjalanan singkat hingga berdirinya GIDI sampai saat ini.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi Generasi Muda GIDI sehingga di Tahun
yang 54 ini Generasi GIDI lebih baik lagi..wa..wa
Daftar Pustaka:
Kogoya.y, dkk. Sejarah Masuknya Injil di Suku Lani.
Andi Ofset. Yogjakarta
Wikipedia.com