Senin, 19 September 2016

Saya Percaya, “Pemimpin Sejati adalah Mereka yang Lebih banyak Menciptakan Pemimpin Baru, Bukan Mereka yang Menciptakan Banyak Pengikut”

(Untaian Isi Hati Dari seseorang  Di Rantauan)

Ketika suatu siang, saya sedang mencari refrensi tugas di Internet, tiba-tiba muncul satu pemberitahuan di dinding Facebook saya, Ternyata pemberitahuan tersebut dari sala satu teman Facebook yang menandai statusnya di account facebook saya. Awalnya saya bermaksud untuk menghapus status yang menandai account facebook saya tersebut , karena saya sebenarnya tidak suka orang tandai (Tag)   foto atau statusnya di account saya. Ternyata orang yang menandai status tersebut  adalah orang yang dekat dengan saya, dia adalah junior saya di sala satu organisasi daerah (Orda)  yang kita ikuti bersama , dia juga adalah ade tingkat 4 tahun di bawah saya ketika saya SMA. Status tersebut berbunyi “Saya Percaya Pemimpin Sejati adalah Mereka yang Lebih Banyak Menciptakan Pemimpin Baru, Bukan Mereka yang Menciptakan  Banyak  Pengikut”. Ketika saya membaca status tersebut, saya terkesan dengan kata-kata yang ditulis oleh ade Tingkat saya, beliau  saat itu masih duduk di kelas XI SMA, sedangkan saya sudah kuliah  Semester V. Saya kagum dengan status tersebut, karena masih ada anak muda yang mempunyai pemikiran dan  pemahaman yang baik   tentang istilah "Pemimpin" di saat teman-teman seusianya menulis status alai di Account sosial media mereka.
Foto : Pemimpin Bukan Bos (Ilustrasi)

Status tersebut menandai beberapa orang yang saya kenal dekat di Organisasai Daerah (Orda), dengan  tanda  Hashtag (#) dengan kalimat “Terima kasih telah ajarkan kami”. Ketika sorenya saya bertanya kepadanya;
“ Maik, (Nama sapaanya) kam pu kata-kata bagus skali, kam dapat dari mana?”
“ kata-kata yang mana” dia Membalas?
“Kata-kata yang di status FB, too..” saya menjawab..
“ ooh..itu terinspirasi dari kegiatan kemarin” dia membalas..
“hhmm” saya terdiam dan meganggukan kepala..

Memang hari itu adalah tiga hari setelah Kegiatan Natal dan Seminar Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Jaya (IPMAPUJA) Se-Jawa dan Bali Tahun 2015. Kegiatan Natal dan Seminar IPMAPUJA se-Jawa dan Bali yang berlangsung 5 hari ( 28-01 januari 2016) kegiatan ini berlangsung aman dan lancar tanpa kekurangan apapun. Yang menjadi apresiasi adalah kepanitiaan kegiatan ini 85 % dari kepanitiaan   adalah Pelajar SMA dan SMP asal Puncak Jaya yang studi di Jawa Timur. Namun semangat dan rasa bertanggung Jawab mereka yang tinggi, sehingga kegiatan besar ini terselenggara tanpa bantuan dana dari “Pemerintah Daerah”,  (karena ada oknum yang memainkan atas nama Panitia),  namun hal ini tidak menjadi persoalan buat Kami (Panitia).

Namun hal yang membuat Kami (Panitia) menjatuhkan air mata adalah ketika tidak ada satu pun Perwakilan orang tua atau Pemerintah Puncak Jaya yang duduk di Bangku Undangan kami. Hanya janji belaka yang menggantikan keringat dan air mata Panitia yang kala itu tercucur  di Lampu Merah  Rantauan.

Tahun 2017 adalah Tahun politik, Tahun Demokrasi, Sekitar Puluhan lebih  pemilihan  kepala daerah serentak akan berlangsung di beberapa wilayah. Salah satunya adalah kabupaten Puncak Jaya. Di sisi lain peluang terjadinya konflik horizontal juga terbuka lebar, terutama daerah-daerah pengunungan di Papua. Puncak Jaya mempunyai peluang terjadinya konflik Horizontal akibat dari Pemilihan Kepala daerah serentak 2017. Hal ini disebabkan karena banyaknya Multi  putra daerah.

Kami ingin, Puncak Jaya Maju, satukan barisan bagi Pemimpin-pemimpin putra daerah yang telah mencalonkan. Unggulkan “Pemimpin yang menciptakan Pemimpin Baru, Bukan Pemimpin yang Mempunyai Banyak Pengikut”

Juga Senior-Senior dan Alumni dan Kaum intelektual Puncak Jaya, Khususnya Alumni dan Senioritas IPMAPUJA Se-Jawa dan Bali, Satukan Visi dan Tujuan. Kami tidak mau lagi kursi  Undangan Untuk orang Tua kosong lagi, kami tidak mau lagi ada keringat dan air mata jatuh di perempatan atau pertigaan lampu merah lagi, kami tidak mau  hanya janji palsu yang kami dapat. Itulah harapan kami dari rantauan. Kami tidak mau lagi merantau kedua kalinya di tanah Kami sendiri.
Salam Demokrasi …
Salam Damai…
_Satu Untuk Semua, Semua Untuk Satu_


Wa..wa..Kinawonak..