(Untaian Isi Hati
Dari seseorang Di Rantauan)
Ketika
suatu siang, saya sedang mencari refrensi tugas di Internet, tiba-tiba muncul
satu pemberitahuan di dinding Facebook saya, Ternyata pemberitahuan tersebut
dari sala satu teman Facebook yang menandai statusnya di account facebook saya.
Awalnya saya bermaksud untuk menghapus status yang menandai account facebook
saya tersebut , karena saya sebenarnya tidak suka orang tandai (Tag)
foto atau statusnya di account saya. Ternyata orang yang menandai
status tersebut adalah orang yang dekat dengan saya, dia adalah junior
saya di sala satu organisasi daerah (Orda) yang kita ikuti bersama , dia
juga adalah ade tingkat 4 tahun di bawah saya ketika saya SMA. Status tersebut
berbunyi “Saya Percaya
Pemimpin Sejati adalah Mereka yang Lebih Banyak Menciptakan Pemimpin Baru,
Bukan Mereka yang Menciptakan Banyak Pengikut”. Ketika saya membaca status
tersebut, saya terkesan dengan kata-kata yang ditulis oleh ade Tingkat saya,
beliau saat itu masih duduk di kelas XI SMA, sedangkan saya sudah
kuliah Semester V. Saya kagum dengan status tersebut, karena masih ada
anak muda yang mempunyai pemikiran dan pemahaman yang baik tentang
istilah "Pemimpin" di saat teman-teman seusianya menulis status alai
di Account sosial media mereka.
Foto
: Pemimpin Bukan Bos (Ilustrasi)
Status
tersebut menandai beberapa orang yang saya kenal dekat di Organisasai Daerah
(Orda), dengan tanda Hashtag (#) dengan kalimat “Terima
kasih telah ajarkan kami”. Ketika sorenya saya bertanya kepadanya;
“ Maik, (Nama sapaanya) kam pu
kata-kata bagus skali, kam dapat dari mana?”
“ kata-kata yang mana” dia Membalas?
“Kata-kata yang di status FB, too..”
saya menjawab..
“ ooh..itu terinspirasi dari kegiatan
kemarin” dia membalas..
“hhmm” saya terdiam dan meganggukan
kepala..
Memang
hari itu adalah tiga hari setelah Kegiatan Natal dan Seminar Ikatan Pelajar dan
Mahasiswa Puncak Jaya (IPMAPUJA) Se-Jawa dan Bali Tahun 2015. Kegiatan Natal
dan Seminar IPMAPUJA se-Jawa dan Bali yang berlangsung 5 hari ( 28-01 januari
2016) kegiatan ini berlangsung aman dan lancar tanpa kekurangan apapun. Yang
menjadi apresiasi adalah kepanitiaan kegiatan ini 85 % dari kepanitiaan
adalah Pelajar SMA dan SMP asal Puncak Jaya yang studi di Jawa Timur. Namun
semangat dan rasa bertanggung Jawab mereka yang tinggi, sehingga kegiatan besar
ini terselenggara tanpa bantuan dana dari “Pemerintah Daerah”, (karena
ada oknum yang memainkan atas nama Panitia), namun hal ini tidak menjadi
persoalan buat Kami (Panitia).
Namun hal
yang membuat Kami (Panitia) menjatuhkan air mata adalah ketika tidak ada satu
pun Perwakilan orang tua atau Pemerintah Puncak Jaya yang duduk di Bangku
Undangan kami. Hanya janji belaka yang menggantikan keringat dan air mata
Panitia yang kala itu tercucur di Lampu Merah Rantauan.
Tahun
2017 adalah Tahun politik, Tahun Demokrasi, Sekitar Puluhan lebih
pemilihan kepala daerah serentak akan berlangsung di beberapa wilayah.
Salah satunya adalah kabupaten Puncak Jaya. Di sisi lain peluang terjadinya
konflik horizontal juga terbuka lebar, terutama daerah-daerah pengunungan di
Papua. Puncak Jaya mempunyai peluang terjadinya konflik Horizontal akibat dari
Pemilihan Kepala daerah serentak 2017. Hal ini disebabkan karena banyaknya
Multi putra daerah.
Kami ingin, Puncak Jaya Maju, satukan
barisan bagi Pemimpin-pemimpin putra daerah yang telah mencalonkan. Unggulkan
“Pemimpin yang menciptakan Pemimpin Baru, Bukan Pemimpin yang Mempunyai Banyak
Pengikut”
Juga Senior-Senior dan Alumni dan Kaum
intelektual Puncak Jaya, Khususnya Alumni dan Senioritas IPMAPUJA Se-Jawa dan
Bali, Satukan Visi dan Tujuan. Kami tidak mau lagi kursi Undangan Untuk
orang Tua kosong lagi, kami tidak mau lagi ada keringat dan air mata jatuh di
perempatan atau pertigaan lampu merah lagi, kami tidak mau hanya janji
palsu yang kami dapat. Itulah harapan kami dari rantauan. Kami tidak mau lagi
merantau kedua kalinya di tanah Kami sendiri.
Salam Demokrasi …
Salam Damai…
_Satu
Untuk Semua, Semua Untuk Satu_
Wa..wa..Kinawonak..
