Kamis, 15 Oktober 2015

Hut 19 Tahun Kab. Puncak Jaya, IPMAPUJA Malang Gelar Doa Syukur & Diskusi Terbuka



Malang, Pentingkah Generasi Mudah Mengetahui sejarah lokal? Itulah topik diskusi yang diangkat oleh pelajar dan mahasiswa Puncak Jaya yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Jaya (IPMAPUJA) koorwil Malang di Sekretariat IPMAPUJA, Minggu,11/10/2015.



  Foto suasana diskusi terbuka di sekretariat IPMAPUJA Malang 11/10/2015

Doa syukur dan diskusi terbuka ini di selenggarakan dalam rangka memperingati Hut Kabupaten Puncak Jaya, yaitu pada tanggal 8 Oktober 2015. Acara Hut 19 tahun Kabupaten Jaya dihadiri oleh belasan pelajar SMP/SMA dan Mahasiswa dari kota Malang dan Kota Batu, Jawa Timur. Acara  berlangsung aman dan tertib yang dimulai dengan renungan Firman Tuhan bersama yang dipimpin oleh Pdt Ishak Surya. Setelah acara Pemberitaan Firman selesai, acara dilanjutkan dengan diskusi terbuka.
Ini adalah diskusi terbuka yang kedua, setelah diskusi pertama pada Minggu, 27/9/15 lalu. Diskusi kedua ini kami memilih topik “Pentingkah Generasi Mudah mengetahui Sejarah Lokal” ini karena bersamaam dengan HUT kabupaten Kami. Dalam diskusi ini kami membahas tentang sejarah berdirinya Kabupaten Puncak Jaya hingga saat ini supayah adik-adik kami yang masih SMP/SMA bisa mengetahui sejarah daerahnya sendiri, kata ketua Korwil IPMAPUJA Malang, Yunison Wonerenga.
“Sejarah daerah  Penting, sejarah daerah  Mengajarkan kita suatu kepemimpinan yang telah berlalu, sejarah daerah menjadi tolok ukur untuk kita maju, orang yang mengetahui sejarah daerahnya akan memimpin daerahnya dengan dasar sejarah, namun generasi yang belum mengetahui sejarah daerahnya, orang lain akan datang memerintah, walaupun diatas tanah kita sendiri” pungkasnya.
Selain itu, Senioritas IPMAPUJA Malang, Adora Ribka Tabuni mengatakan “mengetahui sejarah Lokal adalah dasar bagi generasi mudah, namun lebih penting lagi adalah rasa saling menghargai dalam organisasi. Untuk kemajuan suatu organisasi harus ada rasa saling Menghargai terutama antara pria dan wanita, Karena di balik perjuangan seorang pemimpin laki-laki, ada seorang wanita yang menopangnya daribelakang” (Neson Elaby)